Thu. Jun 4th, 2026

Siska, istriku, memang memiliki pesona yang sulit diabaikan. Tubuhnya mungil, hanya sekitar 155 sentimeter, namun lengkungannya sempurna. Apalagi pantatnya yang padat dan membulat, seringkali menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Setiap pulang kerja, ia selalu bercerita dengan nada setengah mengeluh, setengah bangga.

“Sayang, lagi-lagi Pak Budi ngelirik pantat aku waktu aku bawa dokumen ke ruangannya,” katanya sambil melepas heelsnya di depan pintu.

Aku hanya tersenyum. “Mungkin karena rok kamu ketahuan ya, Say?”

“Bukan! Aku kan pakai rok sebatas lutut. Tapi tetap aja, matanya itu, seperti mau melahap aku,” Siska berjalan ke arahku, mengelus dadaku. “Tapi jujur, kadang aku suka juga sih diperhatikan.”

Aku mengangguk, mencoba memahami perasaannya. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan godaan di kantornya, yang penting ia pulang kepadaku setiap malam.

Suatu hari, perusahaan tempat Siska bekerja mengadakan outing keluarga di sebuah vila di Puncak. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh karyawan beserta pasangannya. Aku melihat sendiri betapa banyak mata laki-laki yang menatap istriku saat kami tiba. Siska mengenakan gaun merah menyala yang ketat, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya, terutama payudaranya yang montok dan pantatnya yang menggoda.

“Kamu lihat kan, Say? Semua mata itu tertuju padaku,” bisiknya sambil mencubit lenganku pelan.

Aku hanya mengangguk, merasakan sedikit gairah mulai bangkit. Aku memang suka melihat istriku menjadi pusat perhatian.

Malam itu, setelah makan malam, beberapa karyawan mengajak kami ke ruangan karaoke. Kami duduk di sofa besar yang mengelilingi meja marmer. Beberapa botol bir dan whiskey sudah tersaji di meja.

“Ayo, Pak! Nyanyi yang hot-hot!” seru salah satu rekan kerja Siska, seorang pria muda bernama Riko.

Siska tampak antusias. Ia memilih lagu dangdut koplo yang terkenal dengan goyangan erotis. Ketika musik mulai, ia berdiri dan mulai bergoyang. Aku duduk di sofa, menikmati pemandangan itu. Riko dan dua temannya, Budi dan Hendra, duduk di sebelahku.

“Wah, istri Pak Andi hebat banget goyangannya,” kata Riko sambil meletakkan tangannya di paha Siska.

Siska hanya tersenyum, tidak menolak. Justru ia semakin bergoyang liar, kadang-kadang menyenggolkan pantatnya ke arah Riko.

Aku merasakan bir di mulutku terasa semakin nikmat. Aku sengaja tidak bergerak, membiarkan Riko terus “menggoda” istriku.

Setelah beberapa lagu, Siska duduk di antara aku dan Riko. Tangannya sengaja menyentuh paha Riko. Aku melihat Riko menelan ludah.

“Say, mau minum apa?” tanyaku padanya.

“Whiskey aja, Say,” jawabnya pendek.

Aku menuangkan whiskey untuknya, memberikan sedikit lebih banyak dari biasanya. Aku tahu Siska tidak terlalu kuat minum keras.

Setelah beberapa gelas, mata Siska mulai berkunang-kunang. Ia semakin berani, tangannya mulai meraba-raba paha Riko.

Riko membalas dengan meremas paha Siska. “Wih, istri Pak Andi ternyata pinter banget, ya?”

Aku hanya tersenyum. “Iya, dia memang hebat.”

Hendra, yang duduk di sebelah Riko, ikut-ikutan meremas paha Siska. “Boleh juga, nih?”

Siska hanya menggeleng lemah, tapi tidak menolak.

Aku merasakan gairahku semakin memuncak. Aku sengaja menyibakkan rok Siska sedikit, memperlihatkan paha mulusnya. Riko dan Hendra langsung menyadarinya.

“Wow, indah banget, pahanya,” kata Riko sambil mengelus-elus paha Siska.

Siska mendesah pelan. Aku tahu ia mulai terangsang.

“Say, kalau kamu mau, kamu boleh cium dia,” kataku pelan ke telinga Riko.

Riko menatapku dengan tak percaya. “Beneran, Pak?”

Aku mengangguk.

Riko langsung mencium bibir Siska. Siska membalas dengan liar. Tangan Riko mulai meremas-remas payudara Siska dari luar gaunnya.

Hendra tidak mau kalah. Ia mulai mencium leher Siska sambil meremas pantatnya. Siska mendesah lebih keras.

Budi, yang duduk di sebelahku, ikut-ikutan meremas payudara Siska yang satunya.

Aku duduk di sana, menonton ketiga pria itu memuja tubuh istriku. Aku merasakan penisku mulai mengeras. Aku sengaja membuka zipper celanaku, mulai mengocok penisku.

Riko mulai membuka kancing gaun Siska, memperlihatkan payudaranya yang montok dengan puting yang sudah mengeras. Riko langsung menyedot puting itu.

Siska mendesah lebih keras. “Aahh… Riko… terus…”

Hendra mulai membuka rok Siska, memperlihatkan celana dalamnya yang sudah basah. Ia langsung menyelipkan jarinya ke dalam celana dalam itu, mulai memainkan klitoris Siska.

Siska menjerak kecil. “Aahh… Hendra… jangan… aahh…”

Budi tidak mau ketinggalan. Ia mulai menciumi paha Siska sambil meremas-remas pantatnya.

Aku semakin keras mengocok penisku. Aku sangat menikmati pemandangan ini.

Riko mulai membuka celananya, memperlihatkan penisnya yang sudah keras dan besar. “Aku mau masuk, ya, Bu Siska?”

Siska mengangguk lemah. “Aahh… iya… Riko… masuk… aahh…”

Riko langsung menancapkan penisnya ke dalam vagina Siska. Siska menjerak keras. “Aahh! Riko! Besar sekali!”

Riko mulai menggenjot Siska dengan keras. Siska membalas dengan menggoyangkan pinggulnya.

Hendra tidak mau kalah. Ia membuka celananya, memperlihatkan penisnya yang juga keras. “Aku mau masuk dari belakang, ya, Bu Siska?”

Siska mengangguk lagi. “Aahh… iya… Hendra… aahh…”

Hendra langsung menancapkan penisnya ke dalam anus Siska. Siska menjerak lagi. “Aahh! Hendra! Jangan… aahh… sakit… aahh…”

Tapi Hendra tidak peduli. Ia mulai menggenjot anus Siska dengan keras.

Budi tidak mau ketinggalan. Ia membuka celananya, memperlihatkan penisnya yang juga keras. “Aku mau diemut, ya, Bu Siska?”

Siska membuka mulutnya, langsung menyedot penis Budi.

Aku semakin keras mengocok penisku. Aku melihat istriku, wanita yang kucintai, sedang “diperkosa” oleh tiga pria di depanku. Dan aku menikmatinya.

Riko, Hendra, dan Budi terus menggenjot Siska dari berbagai sisi. Siska terus mendesah dan menjerak kenikmatan.

“Aahh… Riko… Hendra… Budi… terus… aahh… lebih keras… aahh…” kata Siska di antara desahannya.

Aku merasakan spermaku mulai keluar. Aku menyemprotkannya ke lantai karaoke.

Beberapa saat kemudian, Riko, Hendra, dan Budi juga mencapai klimaks. Mereka menyemprotkan spermaku ke dalam vagina, anus, dan mulut Siska.

Siska jatuh pingsan di sofa.

Aku duduk di sana, menatap istriku yang pingsan dengan tubuh penuh cairan sperma. Aku merasakan kepuasan yang luar biasa.

Aku tahu ini baru permulaan. Aku akan terus membiarkan istriku “digoda” oleh pria lain. Dan aku akan terus menikmatinya.


Keesokan harinya, Siska bangun dengan pusing berat. Ia menatapku dengan bingung. “Say, apa yang terjadi semalam?”

Aku tersenyum. “Kamu mabuk, Say. Aku sudah membawamu ke kamar.”

Siska mengangguk, tapi matanya masih penuh tanda tanya. Aku tahu ia ingat sesuatu, tapi tidak semuanya.

Aku tidak akan memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi. Biar saja menjadi rahasia di antara aku dan ketiga pria itu. Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan mengulanginya lagi.

Beberapa minggu kemudian, Siska bercerita lagi tentang godaan di kantornya. “Say, Pak Budi lagi-lagi ngelirik aku. Tapi kali ini, dia lebih berani. Dia nyentuh pantat aku.”

Aku hanya tersenyum. “Mungkin kamu harus memberinya pelajaran, Say?”

Siska menatapku dengan tak percaya. “Maksud kamu?”

Aku mendekatinya, menciumnya. “Mungkin kamu harus memberinya apa yang dia inginkan.”

Siska menatapku dengan bingung, tapi aku tahu ia mengerti maksudku. Aku tahu ia akan melakukannya. Dan aku akan menunggunya.


Beberapa hari kemudian, Siska pulang kerja dengan senyum lebar. “Say, aku memberi Pak Budi apa yang dia inginkan.”

Aku menatapnya dengan penasaran. “Apa yang terjadi?”

Siska tertawa. “Aku mengajaknya ke toilet, lalu aku membiarkannya meremas-remas payudaraku.”

Aku merasakan gairahku mulai bangkit. “Lalu?”

“Lalu, aku membiarkannya menciumku,” kata Siska sambil menyentuh penisku. “Dan aku membiarkannya meremas-remas pantatku.”

Aku menariknya ke pelukanku. “Kamu hebat, Say.”

Siska tersenyum. “Aku tahu kamu suka melihatku diperhatikan, Say.”

Aku mengangguk. “Aku sangat suka.”

Aku tahu ini akan terus berlanjut. Aku akan terus membiarkan istriku “digoda” oleh pria lain. Dan aku akan terus menikmatinya. Bagaimana menurutmu tentang pengalaman seperti ini dalam sebuah hubungan?