Aku, Fahri, adalah seorang mahasiswa berusia 22 tahun yang tinggal di sebuah kos-kosan dekat kampusku. Suatu hari, teman sekosanku, Bima, memberitahuku bahwa dia akan pulang ke kampung halamannya selama seminggu untuk menghadiri pernikahan saudaranya.
“Eh, Fah, tolong jaga kos-kosan ya selama aku gak ada,” kata Bima sambil menepuk bahuku.
“Tentu, Bro. Santai saja,” jawabku santai.
Keesokan harinya, Bima sudah berangkat. Aku sendirian di kos-kosan yang biasanya dihuni oleh dua orang. Malam itu, aku sedang nonton film di ruang tamu ketika aku mendengar suara ketukan pintu.
“Siapa ya?” gumamku sambil berjalan menuju pintu.
Ketika aku membuka pintu, aku terkejut melihat seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu. Wanita itu cantik, dengan rambut hitam panjang yang diikat, dan tubuh yang masih kencang meskipun usianya sudah sekitar 45 tahun. Dia mengenakan daster warna pink yang sedikit tembus pandang.
“Maaf, nak. Apa ini kos-kosan tempat Bima tinggal?” tanyanya dengan suara lembut.
“Iya, Bu. Bima sedang pulang kampung. Ada yang bisa saya bantu?” jawabku sopan.
“Oh, aku ibunya Bima. Namaku Ratna. Aku mau ambil beberapa barang Bima yang tertinggal,” katanya sambil tersenyum.
“Oh, silakan masuk, Bu Ratna,” kataku singga membukakan pintu lebar-lebar.
Ratna masuk ke dalam kos-kosan dan duduk di sofa ruang tamu. Aku menawarkannya segelas air putih, yang diterimanya dengan senyuman. Aku tidak bisa berhenti mencuri pandang ke arahnya. Daster yang dia kenakan sedikit ketat, menunjukkan lekuk tubuhnya yang masih menawan. Payudaranya yang besar tampak menonjol, dan pantatnya yang bulat terlihat jelas meskipun tertutup daster.
“Kamu teman sekamar Bima ya, nak?” tanya Ratna memecah keheningan.
“Iya, Bu. Namaku Fahri,” jawabku.
“Fahri… nama yang bagus. Kamu kuliah di mana?” tanyanya lagi.
Aku menjawab pertanyaannya dengan sopan, sambil terus mencuri pandang ke arah tubuhnya. Aku merasakan kontolku mulai mengeras dalam celanaku. Wanita di depanku ini benar-benar menggairahkan.
“Maaf, Bu. Bima mengambil barangnya di kamar mana ya?” tanyaku untuk mengalihkan perhatianku.
“Oh, di kamar sebelah sana,” katanya sambil menunjuk ke kamar Bima.
Aku membukakan pintu kamar Bima, dan Ratna masuk ke dalam. Aku ikut masuk untuk membantunya mencari barang-barang yang dia butuhkan. Di dalam kamar yang sempit itu, tubuh kami sering bersentuhan tanpa sengaja. Setiap kali tubuh kami bersentuhan, aku merasakan getaran aneh di seluruh tubuhku.
Setelah beberapa saat mencari, Ratna akhirnya menemukan barang yang dia cari.
“Nah, ini dia. Al Quran ayahnya yang tertinggal,” katanya sambil tersenyum.
Aku membantunya membawa barang-barangnya keluar kamar. Saat kami berjalan menuju pintu, tiba-tiba Ratna tersandung dan hampir jatuh. Aku langsung menangkapnya, dan secara tidak sengaja, tanganku menepuk payudaranya yang besar dan kenyal.
“Aduh!” teriaknya kaget.
“Maaf, Bu! Saya tidak sengaja!” cepat-cepat aku melepaskannya.
Ratna hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, nak. Kejadian saja.”
Tapi aku melihat sesuatu yang aneh di matanya. Ada kilat birahi yang sesaat muncul, sebelum dia kembali tersenyum sopan.
“Baiklah, Fahri. Aku pamit dulu ya. Terima kasih sudah membantuku,” katanya sambil berjalan menuju pintu.
“Sama-sama, Bu Ratna,” jawabku.
Setelah Ratna pergi, aku langsung masuk ke kamarku dan membuka celana. Kontolku sudah sangat keras. Aku membayangkan tubuh Ratna yang menggairahkan, payudaranya yang besar, dan pantatnya yang bulat. Aku mulai mengocok kontolku sambil membayangkan sedang meniduri wanita itu.
“Ahh… Ratna… ah… aku mau ngentot kamu… ah…” desahku pelan.
Aku mengocok kontolku semakin cepat, membayangkan sedang mencium bibir Ranita, meremas payudaranya, dan menjilati memeknya yang mungkin masih basah.
“Ahh… Ratna… ah… ah… ah…” aku akhirnya mencapai orgasme dan menyemprotkan spermaku ke atas kain sprei.
Setelah itu, aku merasa lega. Tapi aku juga merasa bersalah. Aku baru saja membayangkan meniduri ibu dari temanku sendiri. Tapi nafsuku sudah terlanjur memuncak.
Keesokan harinya, aku mencoba melupakan kejadian semalam. Tapi bayangan Ratna terus menghantui pikiranku. Aku tidak bisa berhenti memikirkan betapa menggairahkannya wanita itu.
Sore itu, aku sedang belajar di kamarku ketika aku mendengar suara ketukan pintu lagi. Aku berharap itu bukan Ratna, karena aku tidak yakin aku bisa menahan nafsuku jika melihatnya lagi.
Tapi ketika aku membuka pintu, aku melihat Ratna berdiri di sana lagi. Kali ini, dia mengenakan daster warna biru yang lebih ketat dari sebelumnya, dan rambutnya terurai indah.
“Maaf mengganggu lagi, nak. Aku lupa ambil kunci rumah,” katanya dengan suara yang terdengar sedikit manja.
“Oh, silakan masuk, Bu,” kataku sambil berusaha tersenyum sopan.
Ratna masuk ke dalam dan duduk di sofa yang sama seperti semalam. Kali ini, aku duduk di sebelahnya, mencoba menjaga jarak. Tapi Ratna malah mendekatkan tubuhnya kepadaku.
“Fahri, kamu punya pacar?” tanyanya tiba-tiba.
Aku terkejut dengan pertanyaannya. “Belum, Bu. Lagi fokus kuliah dulu.”
“Oh… sayang sekali. Kamu tamat lho,” katanya sambil meletakkan tangannya di pahaku.
Aku merasakan jantungku berdegup kencang. Sentuhan tangannya terasa sangat hangat di pahaku.
“Bu… apa yang Bapak lakukan di rumah?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ratna tertawa. “Suamiku? Dia sudah pergi selama bertahun-tahun. Meninggalkan aku dan Bima sendirian.”
“Oh, maaf mendengarnya, Bu,” kataku merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, nak. Itu sudah lama sekali,” katanya sambil mengusap pahaku secara perlahan. “Aku sudah lama juga tidak merasakan sentuhan pria.”
Aku menelan ludah. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini, dan aku tidak yakin aku bisa menolak.
“Bu… kita seharusnya tidak…” kataku ragu.
Ratna mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Siapa yang tahu, nak? Kita berdua saja di sini.”
Sebelum aku bisa menjawab, Ratna sudah mencium bibirku. Aku terkejut, tapi aku juga merasakan nikmat. Bibirnya terasa sangat lembut dan basah. Aku membalas ciumannya, dan kami berciuman dengan penuh nafsu.
Tangan Ratna mulai meraba-raba dadaku, sementara tanganku mulai meremas payudaranya yang besar dari luar dasternya. Ratna mendesah nikmat saat aku meremas payudaranya.
“Ahh… Fahri… terus… remas payudara aku…” desahnya.
Aku semakin bernafsu. Aku membuka dasternya, dan aku melihat Ratna tidak mengenakan bra. Payudaranya yang besar dan kenyal langsung terpampang jelas di depanku. Aku langsung menjilati dan menghisap putingnya yang sudah mengeras.
“Ahh… ya… jilat puting aku… ah…” Ratna mendesah semakin keras.
Tangan Ratna mulai membuka celanaku, dan kontolku yang sudah keras langsung melompat keluar. Ratna menggenggam kontolku dan mulai mengocoknya pelan.
“Wow… kontolmu besar sekali, nak,” katanya kagum.
Aku merasakan nikmat saat Ratna mengocok kontolku. Aku semakin ganas menghisap payudaranya, membuat Ratna semakin bernafsu.
“Aku mau ngentot, Bu… mau masukin kontolku ke memekmu…” kataku bernafsu.
“Iya, nak… ngentot aku… masukin kontolmu yang besar ke memek aku yang sudah lama gak dapet jatah…” desah Ratna.
Aku melepas semua pakaiannya, dan Ratna juga telanjang bulat di depanku. Aku melihat tubuhnya yang indah, dengan payudara besar, perut rata, dan memek yang sudah basah dengan bulu-bulu halus di sekitarnya.
Aku membawa Ratna ke kamarku dan meletakkannya di tempat tidur. Aku menjilati memeknya yang sudah basah, membuat Ratna mendesah nikmat.
“Ahh… ya… jilat memek aku… ah… jilatin klit aku… ah…” desahnya.
Aku menjilati memek Ratna dengan penuh nafsu, sambil sesekali menusukkan jariku ke dalamnya. Ratna semakin liar, meremas rambutku dan mendorong kepalaku ke memeknya.
“Aku mau dimasukin, nak… masukin kontolmu sekarang juga…” pinta Ratna.
Aku menaiki tubuh Ratna dan mulai memasukkan kontolku ke dalam memeknya. Aku merasakan memek Ratna yang sangat hangat dan basah. Kontolku masuk dengan mudah karena memeknya sudah sangat basah.
“Ahh… ya… besar sekali… ah… terus… kocok memek aku…” desah Ratna.
Aku mulai mengocok kontolku keluar masuk memek Ratna dengan ritme yang pelan dulu, lalu semakin cepat. Ratna meremas punggungku dan mengangkat pantatnya setiap kali aku menekan kontolku dalam-dalam.
“Ahh… ya… seperti itu… ah… aku mau keluar… ah…” desah Ratna.
“Aku juga mau, Bu… ah… ah… ah…” jawabku.
Beberapa saat kemudian, kami sama-sama mencapai orgasme. Aku menyemprotkan spermaku ke dalam memek Ratna, sementara Ratna menggelinjang nikmat di bawahku.
Setelah itu, kami berbaring sejenak untuk memulihkan tenaga. Ratna memelukku erat-erat.
“Itu adalah ngentot terbaik yang pernah aku rasakan, nak,” katanya sambil mencium keningku.
“Aku juga, Bu. Aku tidak menyangka kita akan melakukan ini,” jawabku jujur.
Ratna tertua. “Aku sudah lama tidak merasakan kenikmatan seperti ini. Suamiku sudah lama pergi, dan aku terlalu sibuk mengurus Bima.”
Aku memeluknya balik. “Jika Bu Ratna mau, kita bisa melakukan ini lagi.”
Ratna tersenyum. “Tentu saja, nak. Aku mau ngentot dengan kamu lagi dan lagi.”
Kami berciuman lagi, dan nafsuku kembali memuncak. Kali ini, aku mau mencoba hal yang baru.
“Bu, aku mau nyoba masuk dari belakang,” kataku bernafsu.
Ratna tersenyum nakal. “Tentu saja, nak. Silakan coba lubang anusku juga jika kamu mau.”
Aku terkejut mendengarnya. “Benarkah, Bu?”
“Tentu saja. Aku belum pernah mencobanya, tapi aku penasaran bagaimana rasanya,” jawab Ratna.
Aku memposisikan Ratna dalam posisi nungging, dan aku mulai menjilati anusnya. Ratna mendesah nikmat saat aku menjilati lubang anusnya yang ketat.
“Ahh… ya… jilat anus aku… ah… nikmat sekali…” desahnya.
Setelah anusnya basah dengan liurku, aku mulai memasukkan kontolku ke dalamnya pelan-pelan. Ratna meringis kesakitan saat kontolku mulai masuk ke dalam anusnya.
“Sakit, Bu?” tanyaku khawatir.
“Sedikit, nak. Tapi terus saja, aku suka,” jawab Ratna.

Aku mulai mengocok kontolku keluar masuk anus Ratna dengan pelan, lalu semakin cepat. Ratna mulai menikmatinya dan mendesah nikmat.
“Ahh… ya… kocok anus aku… ah… nikmat sekali… ah…” desahnya.
Aku merasakan anus Ratna yang sangat ketat. Aku semakin bernafsu mengocok kontolku keluar masuk anusnya.
“Aku mau keluar lagi, Bu… ah… ah… ah…” kataku.
“Keluarin di anus aku, nak… ah… aku mau merasakan spermamu di anus aku…” desah Ratna.
Beberapa saat kemudian, aku menyemprotkan spermaku ke dalam anus Ratna. Ratna menggelinjang nikmat dan mencapai orgasme lagi.
Setelah itu, kami berbaring lagi, kali ini dengan perasaan yang sangat puas.
“Itu luar biasa, nak. Aku tidak pernah menyangka ngentot di anus bisa seenak ini,” kata Ratna sambil tersenyum.
“Aku juga senang, Bu. Aku senang bisa memberikan kepuasan pada Bu Ratna,” jawabku.
Ratna memelukku erat-erat. “Fahri, kamu bisa ngentot aku kapan saja kamu mau. Selama Bima tidak ada, tentu saja.”
Aku tersenyum. “Tentu saja, Bu. Aku mau ngentot Bu Ratna lagi dan lagi.”
Kami berciuman lagi, dan kali ini kami tertidur dalam pelukan satu sama lain.
Keesokan paginya, aku terbangun dan melihat Ratna sudah tidak ada di sampingku. Aku mencarinya di seluruh kos-kosan, tapi tidak ada. Aku melihat pesan di meja ruang tamu.
“Fahri, terima kasih untuk malam yang indah. Aku harus pulang sebelum Bima kembali. Jangan khawatir, ini akan menjadi rahasia kita berdua. – Ratna”
Aku tersenyum membaca pesan itu. Aku tahu ini mungkin salah, karena Ratna adalah ibu dari temanku, tapi aku tidak bisa menahan perasaan senang yang aku rasakan.
Beberapa hari kemudian, Bima kembali ke kos-kosan. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi antara aku dan ibunya.
“Eh, Fah, kok kamu kelihatan seneng banget? Apa yang terjadi selama aku pergi?” tanya Bima.
Aku hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, Bro. Cuma dapat nilai bagus aja.”
Bima tidak curiga, dan aku lega. Tapi aku tidak bisa melupakan kenikmatan yang aku rasakan bersama Ratna.
Beberapa minggu kemudian, Ratna mengirimkan pesan padaku. “Fahri, aku kangen. Bima akan pergi lagi akhir bulan ini. Kita bisa ngentot lagi kan?”
Aku tersenyum membaca pesannya. Aku tahu aku akan menunggu dengan tidak sabar untuk hari itu.
Hari itu akhirnya tiba. Bima pergi lagi, dan Ratna datang ke kos-kosan lagi. Kali ini, kami langsung masuk ke kamarku dan melepas semua pakaian kami.
“Aku kangen kontolmu, nak,” kata Ratna sambil menggenggam kontolku yang sudah keras.
“Aku juga kangen memekmu, Bu,” jawabku sambil meremas payudaranya.
Kami berciuman dengan penuh nafsu, lalu aku menjilati memeknya hingga basah. Ratna mendesah nikmat saat aku menjilati klitnya.
“Ahh… ya… jilat memek aku… ah… nikmat sekali…” desahnya.
Setelah memeknya basah, aku memasukkan kontolku ke dalamnya. Aku mengocok kontolku keluar masuk memeknya dengan penuh nafsu.
“Ahh… ya… kocok memek aku… ah… terus… ah…” desah Ratna.
Kali ini, kami mencoba beberapa posisi yang berbeda. Kami mencoba posisi woman on top, di mana Ratna menaik turunkan tubuhnya di atas kontolku. Kami juga mencoba posisi spooning, di mana aku mengocok kontolku dari samping sambil meremas payudaranya.
“Ahh… ya… nikmat sekali… ah… aku mau keluar… ah…” desah Ratna.
“Aku juga mau, Bu… ah… ah… ah…” jawabku.
Kami sama-sama mencapai orgasme, dan aku menyemprotkan spermaku ke dalam memek Ratna.
Setelah itu, kami berbaring sejenak.
“Fahri, aku mau ngentot lagi. Tapi kali ini, aku mau yang lebih keras,” kata Ratna bernafsu.
Aku tersenyum. “Tentu saja, Bu. Aku akan ngentot Bu Ratna sekeras yang aku bisa.”
Aku memposisikan Ratna dalam posisi nungging lagi, dan kali ini aku mengocok kontolku keluar masuk anusnya dengan sangat keras. Ratna menjerit nikmat setiap kali aku menekan kontolku dalam-dalam.
“Ahh… ya… keras lagi… ah… nikmat sekali… ah…” desahnya.
Aku meremas pantatnya dan menamparnya pelan, membuat Ratna semakin bernafsu.
“Ahh… ya… tampar pantat aku… ah… aku mau lagi… ah…” desahnya.
Aku mengocok kontolku semakin keras, dan Ratna semakin liar. Akhirnya, kami sama-sama mencapai orgasme lagi.
Setelah itu, kami sangat kelelahan. Kami tertidur dalam pelukan satu sama lain.
Keesokan paginya, Ratna harus pulang lagi. Tapi kali ini, dia berjanji akan sering datang ke kos-kosan.
“Aku akan sering datang, nak. Bima sering pergi untuk tugas kuliahnya, jadi kita akan punya banyak waktu,” katanya sambil tersenyum.
Aku sangat senang mendengarnya. Aku tahu ini mungkin salah, tapi aku tidak bisa menahan perasaan senang yang aku rasakan.
Beberapa bulan kemudian, hubungan aku dan Ratna semakin dekat. Kami sering ngentot setiap kali Bima tidak ada. Ratna mengajariku banyak hal tentang seks, dan aku belajar bagaimana memberikan kepuasan padanya.
Suatu hari, Ratna memberitahuku sesuatu yang mengejutkan.
“Fahri, aku hamil,” katanya dengan suara gemetar.
Aku terkejut mendengarnya. “Apa? Benarkah, Bu?”
“Iya, nak. Aku hamil anakmu,” jawab Ratna.
Aku bingung harus bagaimana. Aku senang, tapi aku juga khawatir. Bagaimana jika Bima tahu? Bagaimana jika orang lain tahu?
“Apa yang harus kita lakukan, Bu?” tanyaku bingung.
Ratna tersenyum. “Jangan khawatir, nak. Aku sudah punya rencana. Aku akan bilang ini hasil dari hubungan gelapku dengan pria lain. Tidak ada yang akan tahu ini anakmu.”
Aku lega mendengarnya. “Baiklah, Bu. Aku akan mendukung apapun keputusanmu.”
Ratna memelukku erat-erat. “Terima kasih, Fahri. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu.”
Beberapa bulan kemudian, Ratna melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Bima sangat senang memiliki adik laki-laki, tidak tahu bahwa bayi itu sebenarnya adalah anakku.
Aku dan Ratna terus menjalani hubungan gelap kami, dan aku sering mengunjunginya untuk melihat bayi kami. Aku tahu ini mungkin salah, tapi aku tidak bisa menahan perasaan cinta yang aku rasakan untuk Ratna dan bayi kami.
Hingga hari ini, aku dan Ratna masih menjalani hubungan kami. Bima masih tidak tahu apa-apa, dan aku berharap dia tidak akan pernah tahu. Aku tahu ini mungkin salah, tapi aku tidak bisa menahan perasaan bahagia yang aku rasakan setiap kali aku bersama Ratna dan bayi kami.
Itulah ceritaku tentang bagaimana aku meniduri ibu temanku yang sedang kesepian. Aku tahu ini mungkin salah, tapi aku tidak bisa menahan perasaan bahagia yang aku rasakan setiap kali aku bersama Ratna. Dan aku berharap kami bisa terus bahagia bersama, tidak peduli apa pun orang lain katakan.
Apakah kamu pernah mengalami pengalaman serupa dengan hubungan terlarang yang tidak terduga?
