Thu. Jun 4th, 2026

Hari itu event rokok baru di mal ternama kota berlangsung meriah. Riko, pria berusia 28 tahun yang bekerja sebagai manajer pemasaran, sengaja datang untuk networking. Namun fokusnya buyar saat matanya bertemu dengan seorang SPG rokok yang memukau. Gadis itu berdiri di booth merek “Lavender,” dengan seragam ketat berwarna ungu yang memamerkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Namanya Siska, begitu terbaca di name tag yang menempel di dadanya.

Riko mendekat dengan dalih ingin tahu lebih banyak tentang produk tersebut.

“Selamat siang, Kak. Boleh tahu tentang varian baru ini?” tanya Riko sambil matanya tak lepas dari Siska.

Siska tersenyum manis, membuat dadanya yang tercetak sempurna di balik seragam itu bergerak menarik. “Tentu, Pak. Ini varian menthol dengan sentuhan lavender, lebih ringan tapi tetap punya karakter.”

Mereka ngobrol hampir setengah jam, terlibat percakapan yang mengalir natural. Riko tertarik bukan hanya pada penampilannya, tapi juga kecerdasannya saat menjelaskan produk. Sebelum mereka sempat bertukar nomor, bos Riko menelepon dan memanggilnya kembali ke booth perusahaan.

“Maaf, Siska. Saya harus pergi dulu,” kata Riko dengan menyesal.

“Tidak apa-apa. Mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi,” jawab Siska dengan senyum yang membuat Riko semakin penasaran.


Sepuluh hari kemudian, Riko mengendarai mobilnya melewati jalan protokol saat matanya menangkap sosok yang familiar. Dua gadis cantik sedang berjalan kaki di trotoar, salah satunya adalah Siska. Tanpa pikir panjang, Riko memepet mobil di dekat mereka.

“Permisi, Siska? Ingat saya dari event rokok di mal?” tanya Riko sambil menurunkan kaca jendela.

Siska menoleh, matanya melebar saat mengenali Riko. “Oh, iya! Mas Riko, kan? Kebetulan sekali.”

“Ini teman saya, Maya,” kata Siska sambil menunjuk teman di sebelahnya yang tak kalah cantiknya.

Riko melihat kesempatan emas ini. “Mau saya antar? Lagi jalan ke mana kalian? Saya lagi gak ada acara.”

Siska dan Maya saling pandang sejenak, lalu Siska mengangguk. “Boleh juga, kalau tidak merepotkan. Kami lagi mau pulang kerja.”

“Jangan bilang merepotkan. Ayo naik,” ajak Riko sambil membuka pintu mobil.

Di dalam mobil, percakapan mengalir dengan santai. Riko menawarkan mereka mampir ke apartemennya yang tak jauh dari sana untuk minum-minum dulu sebelum pulang.

“Kalian haus kan? Mampir sebentar ke apartemen saya. Ada minuman dingin, nggak usah jauh-jauh nyari minum,” bujuk Riko.

Setelah beberapa kali ajakan, akhirnya Siska dan Maya setuju.


Di apartemen Riko yang luas dengan pemandangan kota dari lantai 15, ketiganya duduk di ruang tamu yang nyaman.

“Apa kalian suka anggur? Saya punya beberapa koleksi bagus,” tawar Riko.

Siska dan Maya saling lihat lagi. “Boleh coba sedikit,” kata Siska.

Riko mengambil botol anggur merah dan tiga gelas. Sambil menuangkan anggur, ia bertanya tentang pekerjaan mereka sebagai SPG.

“Gajinya lumayan sih, tapi capek. Harus senyum terus, padahal kadang lagi nggak mood,” keluh Siska sambil meminum anggur yang sudah disodorkan.

“Apalagi kalau ada tamu yang genit,” timpal Maya sambil tertawa.

Riko ikut tertawa. “Kalau saya genit?”

Siska menatap Riko dengan pandangan menggoda. “Mas Riko masih dalam batas wajar.”

Anggur terus mengalir, percakapan makin cair. Setelah botol pertama habis, Riko mengambil botol kedua. Siska dan Maya sudah terlihat sedikit mabuk, pipi mereka merona.

“Mau dengerin musik nggak?” tanya Riko sambil mengambil remote dan memutar lagu-lagu house yang enerjik.

“Iya, dong! Biar semangat,” seru Maya yang sudah mulai bergoyang di sofa.

Siska ikut berdiri dan mulai menari, gerakannya menggoda dengan rok seragamnya yang sedikit naik turun. Riko tak bisa berpaling dari pantat Siska yang bergerak sensual diiringi musik.


Tak lama kemudian, bel apartemen berbunyi. Riko membukanya dan ternyata temannya, Budi dan Anton.

“Kok nggak kabar-kabar? Lagi apa?” tanya Budi sambil masuk tanpa permisi.

Matanya langsung tertuju pada dua gadis yang sedang menari.

“Wah, ada tamu istimewa,” goda Anton sambil menatap Siska dan Maya dengan pandangan penuh nafsu.

Riko tersenyum. “Ini teman-teman saya, Siska dan Maya. Mereka lagi ngobrol di sini.”

Budi dan Anton langsung duduk di sofa, tak jauh dari para gadis. Riko mengambil gelas lagi untuk teman-temannya.

“Kalian mau anggur juga? Atau bir?” tanya Riko.

“Bir aja, biar lebih greget,” jawab Budi.

Atmosfer makin panas saat bir mengalir. Siska dan Maya sudah benar-benar mabuk, tawa mereka menggema di seluruh ruangan. Budi dan Anton mulai mendekati mereka.

“Goyang dong, Maya,” ajak Budi sambil menggoyangkan pinggulnya di depan Maya.

Maya tertawa dan ikut bergoyang, tangannya sengaja menyentuh dada Budi yang bidang. Di sisi lain, Anton sudah merangkul Siska yang tampaknya tidak menolak.

Riko menyaksikan pemandangan itu dengan nafsu memuncak. Ia melihat Siska sudah mulai terbawa suasana, tangannya memegang leher Anton.

“Kamar ada dua, kalau mau lebih privasi,” bisik Riko ke telinga Siska.

Siska menatap Riko dengan mata berkaca-kaca karena alkohol. “Saya nggak kuat kalau jalan,” jawabnya dengan suara serak.

Anton langsung mengangkat Siska dan membawanya ke sofa besar. Riko menghampiri Maya yang sudah berciuman dengan Budi.

Tangan Budi sudah masuk ke dalam baju Maya, meremas-remas toketnya dari atas bra. Maya mendesah nikmat sambil memegang paha Budi.

“Riko, ikutan dong,” ajak Maya sambil mengulurkan tangannya ke Riko.

Riko segera bergabung, tangannya mulai membuka kancing baju Maya satu per satu. Toket yang terbungkus bra warna pink langsung terlihat, membuat Riko semakin bernafsu.

Di sofa sebelah, Anton sudah melepas semua pakaian Siska. Tubuh mulus itu terpampang indah dengan memek yang sudah basah karena terangsang.

“Kontolmu besar banget, Anton,” desah Siska sambil meremas kontol Anton yang sudah mengeras.

Anton tersenyum lalu mulai menjilat memek Siska. Lidahnya bermain-main di klitoris yang sudah menonjol, membuat Siska mengerang nikmat.

Riko membuka semua pakaiannya, kontolnya yang sudah keras mengacung tegak. Ia mendekati Maya yang sudah telanjang bulat, langsung mengulum toketnya yang kenyal.

“Jilatin memek aku, Riko,” pintah Maya sambil membuka pahanya lebar-lebar.

Riko segera memenuhi permintaan Maya, lidahnya menjelajahi setiap sudut memeknya yang basah. Budi ikut bergabung, menyodorkan kontolnya ke mulut Maya yang langsung mengulumnya dengan rakus.

Suara desahan dan erangan mengisi seluruh ruangan. Siska sudah naik ke atas Anton, menaik-turunkan pantatnya di atas kontol yang menembus memeknya.

“Terus, Anton! Kencangkan lagi!” teriak Siska sambil meremas toketnya sendiri.

Riko mengangkat Maya dan memposisikannya dalam posisi doggy style. Dari belakang, Riko menusukkan kontolnya ke memek Maya yang sudah sangat basah.

“Aah… besar sekali, Riko!” jerit Maya saat kontol Riko masuk seluruhnya.

Budi tidak tinggal diam, ia menghampiri Siska dan Anton, menyodorkan kontolnya ke mulut Siska yang langsung mengulumnya dengan liar.

Pesta seks itu berlanjut hampir dua jam. Mereka berganti pasangan, mencoba berbagai posisi. Siska dan Maya sudah benar-benar terbawa suasana, menikmati setiap sentuhan dan sodokan dari ketiga pria itu.

Riko merasakan klimaksnya mendekat. Ia menarik kontolnya dari memek Maya dan menyemprotkan spermanya ke wajah dan toketnya. Tak lama kemudian, Budi dan Anton juga mengeluarkan sperma mereka ke tubuh Siska.

Kelimanya ambruk di sofa dan karpet, kelelahan tapi puas. Siska dan Maya berpelukan dengan pria-pria yang baru mereka kenal beberapa jam yang lalu.

“Besok kita bisa main lagi kan?” tanya Siska sambil mengelus dada Riko yang masih basah oleh keringat.

Riko tersenyum lebar. “Tentu saja. Kapanpun kalian mau.”

Malam itu, mereka tertidur di apartemen Riko, tubuh mereka telanjang dan berpelukan, menunggu pagi untuk memulai pesta seks lagi.