Rian, seorang mahasiswa semester akhir yang sedang sibuk dengan skripsinya, menemukan pelarian dari kepenatan tugas-tugas kuliahnya melalui game mobile favoritnya, “Legends of Valor”. Di dunia maya itu, dia adalah “KnightRider”, seorang warrior dengan level tinggi yang dihormati banyak pemain. Suatu malam, saat sedang menjalankan misi guild, dia bertemu dengan pemain baru yang cukup lihai, “AngelEyes”.
AngelEyes, ternyata adalah seorang gadis SMA kelas 3 bernama Angel. Awalnya, mereka hanya bermain sebagai tim, saling membantu dalam pertarungan. Tapi lama-kelamaan, Rian terkesan dengan cara bermain Angel yang cerdas dan cepat beradaptasi. Mereka mulai sering bermain bersama, hampir setiap malam.
“Pinter banget sih kamu mainnya,” tulis Rian di chat game suatu malam setelah mereka berhasil mengalahkan bos yang sangat sulit.
“Hehe, biasa aja, Mas. Mas Rian juga hebat,” balas Angel dengan emoticon senyum.
“Masa sih biasa? Cuma kamu yang bisa nge-cover aku baiknya,” puji Rian.
Dari situ, komunikasi mereka mulai berkembang. Tidak hanya soal game, mereka mulai berbicara tentang kehidupan nyata. Rian tahu kalau Angel sedang sibuk dengan ujian sekolahnya, sementara Angel tahu kalau Rian sedang dikejar-deadline skripsi.
“Kakak kuliah di mana sih, Mas?” tanya Angel suatu hari.
“Di Universitas Indonesia, Fakultas Teknik,” jawab Rian.
“Wah, keren! Aku pengen kuliah sana juga, tapi kayaknya nggak bakal lolos,” kata Angel.
“Percaya diri aja, Neng. Kamu kan pinter,” goda Rian.
Obrolan mereka terus berlanjut, hingga suatu hari Rian memberanikan diri untuk mengajak Angel bertemu.
“Kalo nggak keberatan, kita ketemu aja sekali kali, Neng. Mumpung lagi libur ujian,” ajak Rian.
Angel ragu-ragu. “Boleh sih, takutnya nggak cocok sama foto.”
“Tenang, aku juga takut nggak cocok sama kamu,” canda Rian.
Akhirnya mereka sepakat bertemu di sebuah kafe di daerah Jakarta Selatan. Rian datang lebih awal, sedikit gugup. Dia melihat seorang gadis dengan baju pink yang masuk ke kafe, lalu melihat ke arahnya. Itu pasti Angel.
“Angel?” tanya Rian berdiri.
Gadis itu mengangguk dengan senyum malu-malu. “Mas Rian?”

Rian terkesima. Angel jauh lebih cantik daripada yang dia bayangkan. Tubuhnya proporsional dengan payudara yang padat tersembun di balik baju pink-nya, dan wajahnya manis dengan senyum yang memikat.
“Maaf, Mas, aku telat sedikit,” kata Angel sambil duduk di kursi yang disediakan Rian.
“Nggak papa, kok. Aku juga baru datang,” jawab Rian yang sebenarnya sudah satu jam di sana.
Mereka ngobrol berjam-jam di kafe itu. Rian merasa sangat nyaman dengan Angel. Gadis itu tidak hanya cantik, tapi juga cerdas dan lucu. Sedangkan Angel merasa Rian adalah pria dewasa yang bijaksana dan perhatian.
Setelah pertemuan pertama itu, mereka jadi sering bertemu. Kadang di kafe, kadang nonton, sekadar jalan-jalan di mal. Komunikasi via chat juga makin intens. Rian merasakan ada sesuatu yang istimewa dengan Angel, dan dia yakin Angel juga merasakan hal yang sama.
Suatu malam, setelah kencan ketiga mereka, Rian memberanikan diri.
“Angel, aku ada sesuatu yang mau aku bilang,” kata Rian serius.
“Ada apa, Mas?” tanya Angel dengan hati-hati.
“Aku… aku suka sama kamu. Maukah kamu jadi pacar aku?” tanya Rian dengan jantung berdebar.
Angel menunduk, wajahnya memerah. Setelah beberapa saat yang terasa seperti abad, dia mengangguk pelan.
“Aku juga suka sama kamu, Mas,” jawabnya pelan.
Rian merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Dia menggenggam tangan Angel, lalu menariknya ke dalam pelukan. Mereka resmi berpacaran malam itu.
Hari pertama pacaran mereka diisi dengan obrolan panjang via chat. Rian tidak bisa bertemu Angel karena harus menyelesaikan tugas kuliahnya. Obrolan mereka dimulai dengan hal-hal biasa, bagaimana hari mereka, apa yang mereka lakukan.
“Kangen, Mas,” tiba-tiba tulis Angel.
“Aku juga kangen, Neng. Pengen cepet besok biar bisa ketemu lagi,” balas Rian.
“Mas sayang nggak sama aku?” tanya Angel lagi.
“Tentu sayang. Kenapa tanya begitu?”
“Nggak, cuma… pengen denger aja,” jawab Angel.
Obrolan mereka mulai bergeser ke hal-hal yang lebih pribadi. Rian mulai bertanya tentang pacar-pacar Angel sebelumnya, dan Angel juga bertanya tentang pacar-pacar Rian.
“Pernah bercinta belum, Neng?” tiba-tiba Rian menanyakan hal yang cukup berani.
Angel menjawab dengan emoticon malu. “Belum, Mas.”
“Bohong,” goda Rian.
“Beneran! Aku masih perawan, Mas,” balas Angel.
Rian merasakan gelora di dalam dirinya. “Kalau aku bilang aku mau ngajarin kamu, gimana?”
Angel menjawab dengan emoticon mata berbinar. “Aku takut, Mas.”
“Takutnya kenapa?”
“Nanti sakit,” jawab Angel jujur.
“Nanti aku pelan-pelanin, kok,” goda Rian lagi.
Obrolan mereka makin lama makin panas. Rian merasakan kemaluannya mulai mengeras. Dia memegang kemaluannya dari balik celana, lalu mengetik pesan lagi.
“Aku lagi ngaceng, Neng. gara-gara ngobrol sama kamu,” tulis Rian.
Angel menjawab dengan emoticon mata melotot. “Beneran, Mas?”
“Beneran. Pengen lihat kamu sekarang,” kata Rian.
“Aku juga pengen lihat Mas,” balas Angel.
“Yaudah, kita video call aja,” usul Rian.
Beberapa detik kemudian, wajah Angel muncul di layar ponsel Rian. Dia masih memakai seragam sekolahnya, tapi sudah melepas jilbabnya. Raut wajahnya terlihat biru-biru.
“Kok pake seragam segala?” tanya Rian.
“Baru pulang sekolah, Mas. Belum sempat ganti baju,” jawab Angel.
“Pake seragam jadi malah tambah nafsin, tau,” goda Rian.
Angel tersipu malu. “Mas jahat!”
“Coba angkat bajunya dikit, Neng. Pengen lihat,” pinta Rian.
Ragu-ragu, Angel mengangkat baju seragamnya hingga perutnya yang rata terlihat. Rian menelan ludah. Dia memegang kemaluannya yang sudah mengeras di balik celana.
“Lebih tinggi lagi, Neng,” pinta Rian.
Angel menurut. Dia mengangkat baju seragamnya hingga payudaranya yang tertutup bra putih terlihat jelas. Rian bisa melihat belahan payudara yang padat itu.
“Bukain bra-nya, Neng,” pinta Rian dengan suara serak.
Angel melepas baju seragamnya, lalu membuka kaitan bra-nya. Payudaranya yang padat dengan puting yang berwarna merah muda terlihat jelas di layar ponsel Rian.
“Pantesan kamu pinter main game, payudaranya juga besar,” goda Rian.
Angel tersipu malu. “Mas jahat! Sekarang giliran aku yang lihat.”
Rian berdiri, lalu melepas kaosnya. Otot-otot perutnya yang six pack terlihat jelas. Angel menelan ludah saat melihatnya.
“Wow, badan Mas Rian keren,” puji Angel.
“Buka celanamu juga, Neng,” pinta Rian.
Angel berdiri, lalu melepas rok seragamnya. Celana dalam warna pink yang ketat menutupi kemaluannya. Rian bisa melihat gundukan kemaluan yang menonjol di balik celana dalam itu.
“Buka celana dalamnya juga,” pinta Rian.
Angel menurut. Dia melepas celana dalamnya, memperlihatkan kemaluannya yang masih ditumbuhi bulu halus. Rian merasakan kemaluannya berdenyut-denyut.
“Sekarang giliran aku,” kata Rian sambil melepas celana pendeknya.
Kemaluan Rian yang sudah mengeras dengan ukuran di atas rata-rata terlihat jelas di layar ponsel Angel. Angel menelan ludah saat melihatnya.
“Besar sekali, Mas,” gumam Angel.

“Mau pegang?” tanya Rian sambil mengocok kemaluannya pelan.
Angel mengangguk. Dia meletakkan ponselnya, lalu merebahkan diri di tempat tidurnya. Rian bisa melihat Angel mulai mengelus kemaluannya.
“Aku ikutan, Neng,” kata Rian sambil merebahkan diri di kasurnya.
Mereka berdua mulai masturbasi bersama via video call. Rian mengocok kemaluannya dengan cepat sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan Angel yang sedang mengelus kemaluannya.
“Mas… aku… ah… mau keluar,” desah Angel.
“Tahan dulu, Neng. Tunggu aku,” jawab Rian sambil mempercepat kocokannya.
Beberapa saat kemudian, mereka mencapai orgasme bersamaan. Rian menyemprotkan cairannya ke perutnya sementara Angel mengejang nikmat di tempat tidurnya.
” nikmat sekali, Mas,” gumam Angel setelah napasnya mulai normal.
“Kamu juga, Neng. Badan kamu bikin aku nggak tahan,” jawab Rian.
Mereka beristirahat sejenak, masih terhubung via video call. Rian menatap wajah Angel yang masih memerah karena orgasme.
“Pengen ngentot sama kamu, Neng,” tiba-tiba Rian berkata jujur.
Angel tersenyum. “Aku juga, Mas.”
“Yaudah, besok kita ketemu. Aku cariin losmen ya,” usul Rian.
Angel mengangguk. “Aku takut, Mas.”
“Nggak usah takut. Aku bakal jaga kamu baik-baik,” janji Rian.
Keesokan harinya, Rian menjemput Angel di rumahnya. Dia sudah memesan kamar di sebuah losmen yang cukup sepi di pinggir kota. Angel memakai baju kasual yang ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah.
“Siang, Neng. Cantik banget hari ini,” puji Rian saat Angel masuk ke mobilnya.
Angel tersenyum. “Mas juga ganteng.”
Mereka tidak banyak bicara di perjalanan. Rian bisa merasakan gairah yang memuncak di dalam dirinya. Begitu juga dengan Angel, yang terus memegang tangannya dengan gemetar.
Sampai di losmen, Rian langsung mengajak Angel ke kamar yang sudah dia pesan. Kamar itu sederhana, dengan ranjang double bed dan kamar mandi kecil. Rian mengunci pintu, lalu menarik Angel ke dalam pelukannya.
“Mas…,” gumam Angel saat Rian mulai mencium lehernya.
Rian tidak menjawab. Dia terus menciumi leher Angel, lalu turun ke bahu. Tangannya mulai meremas payudara Angel dari balik baju ketat yang dikenakannya.
“Ah… Mas…,” desah Angel sambil menundukkan kepalanya.
Rian melepas baju Angel, memperlihatkan payudaranya yang padat dengan bra hitam yang seksi. Dia melepas bra itu, lalu mengulum payudara Angel dengan penuh nafsu.
“Ah… Mas… terus…,” desah Angel sambil meremas rambut Rian.
Rian mengulum payudara Angel bergantian, sementara tangannya sibuk melepas celana jeans ketat yang dikenakan Angel. Setelah celana itu terlepas, Rian bisa melihat celana dalam Angel yang sudah basah.
“Basah sekali, Neng. Udah nggak tahan ya?” goda Rian.
Angel mengangguk malu-malu. “Aku udah lama nunggu ini, Mas.”
Rian tersenyum. Dia melepas celana dalam Angel, lalu menjilati kemaluannya yang sudah basah.
“Ah… Mas! Jangan di situ!” seru Angel kaget.
Tapi Rian tidak peduli. Dia menjilati kemaluan Angel dengan penuh nafsu, membuat Angel menjerit-jerit nikmat. Lidahnya bermain-main di klitoris Angel yang menonjol.
“Mas… ah… aku… mau keluar…,” desah Angel.
“Tahan dulu, Neng. Aku mau kamu keluar pas aku masukin,” jawab Rian sambil bangkit.
Rian melepas semua pakaiannya hingga telanjang bulat. Kemaluannya yang sudah mengeras berdiri tegak. Angel menelan ludah saat melihatnya.
“Besar sekali, Mas,” gumam Angel.
“Nanti kamu bakal merasakan sendiri,” jawab Rian sambil menyebarangkan kaki Angel lebar-lebar.
Rian menempelkan kemaluannya ke lubang kemaluan Angel yang sudah basah.
“Ahh…,” desah keduanya saat Rian mulai memasukkan kemaluannya.
Lubang kemaluan Angel terasa sangat sempit dan hangat. Rian merasakan nikmat yang luar biasa saat kemaluannya masuk seluruhnya ke dalam.
“Perawan, kan, Neng?” tanya Rian sambil menatap mata Angel.
Angel mengangguk dengan air mata di pelupuk matanya. “Sakit, Mas.”
“Nanti biasa aja, kok,” jawab Rian sambil mencium kening Angel.
Rian mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Setiap dorongan membuat Angel mendesah kesakitan. Tapi lama-kelamaan, rasa sakit itu mulai berubah menjadi nikmat.
“Mas… ah… terus… lebih keras…,” desah Angel sambil meremas punggung Rian.
Rian memenuhi permintaan Angel. Dia menggenjot Angel dengan liar, membuat ranjang berderak-derak. Payudara Angel yang bergoyang-goyang setiap kali Rian menancapkan kemaluannya membuat nafsunya semakin menjadi-jadi.
“Mas… aku… ah… mau keluar…,” seru Angel.
“Sama, Neng. Aku juga mau keluar,” jawab Rian sambil mempercepat gerakannya.
Beberapa dorongan kemudian, mereka mencapai orgasme bersamaan. Rian menyemprotkan cairannya ke dalam kemaluan Angel sementara Angel mengejang nikmat.
Mereka berdua terkulai lemas di ranjang, berkeringat dan nafasnya tersengal-sengal. Rian mencium Angel lembut di dahi.
“Kamu hebat, Neng,” bisiknya.
“Kamu juga, Mas,” jawab Angel dengan senyum lemas.
Mereka beristirahat sejenak, berpelukan sambil mencoba menenangkan nafas mereka yang masih memburu. Tapi tidak lama kemudian, Rian merasakan kemaluannya kembali bangkit. Dia melirik Angel yang masih menutup mata dengan senyum puas di wajahnya.
“Round dua, Neng?” goda Rian sambil mengelus paha Angel.
Angel membuka matanya dan tersenyum. “Kalau kamu kuat, Mas.”
Rian tersenyum penuh kemenangan. Dia membalikkan badan Angel hingga posisi nungging. Dari belakang, Rian bisa melihat belahan pantat Angel yang montok dan lubang kemaluannya yang masih basah.
“Ayo, nak. Jangkang yang lebar,” perintah Rian.
Angel menurut. Dia menjangkangkan kakinya lebar-lebar, memberikan akses yang mudah bagi Rian. Tanpa basa-basi, Rian kembali memasukkan kemaluannya ke dalam lubang kemaluan Angel.
“Ahh…,” desah Angel saat Rian mulai menggerakkan pinggulnya.
Dari posisi ini, Rian bisa menancapkan kemaluannya lebih dalam. Setiap hujaman membuat Angel menjerit nikmat. Rian meremas pantat Angel sambil terus menggenjotnya dari belakang.
“Mas… ah… terus… jangan berhenti…,” pinta Angel sambil menggigit bantal.
Rian mempercepat gerakannya, membuat pantat Angel bergoyang-goyang liar. Dia meraih payudara Angel dari belakang, meremasnya dengan kuat.
“Ah… ah… Mas… aku… ah… mau keluar lagi…,” seru Angel.
“Sabar, Neng. Tahan dulu,” jawab Rian sambil memperlambat gerakannya.
Dia menarik kemaluannya hingga hampir keluar, lalu menancapkannya kembali dengan keras. Angel menjerit kejut setiap kali Rian melakukan itu.
“Mas… jahat… ah…,” desah Angel di antara jeritan nikmat.
Rian tersenyum. Dia terus melakukan gerakan itu beberapa kali, membuat Angel semakin liar. Akhirnya dia tidak bisa menahan lagi, dia menggenjot Angel dengan cepat sampai mereka berdua mencapai orgasme untuk kedua kalinya.
Mereka berdua ambruk ke ranjang, benar-benar kelelahan. Rian mencabut kemaluannya dan memeluk Angel dari belakang, mencium lehernya.
“Kamu puas, Neng?” bisiknya.
Angel mengangguk lemah. “Sangat puas, Mas.”
Mereka tertidur dalam posisi berpelukan, tubuh mereka masih telanjang dan basah oleh keringat.
Keesokan harinya, mereka bercinta lagi di kamar mandi. Di bawah shower air hangat, Rian menekan Angel ke dinding, lalu memasukkan kemaluannya dari belakang.
“Mas… di sini… ah…?” desah Angel kaget.
“Tenang, Neng. Ini bakal seru,” jawab Rian sambil menggenjot Angel di bawah shower.
Mereka bercinta lagi di kamar mandi sampai Angel mencapai orgasme lagi. Setelah mandi, mereka sarapan pagi di warung dekat losmen. Makan siang itu terasa lebih nikmat dengan saling goda dan sentuhan di bawah meja.
Selesai makan, mereka kembali ke kamar. Mereka menghabiskan sisa hari itu dengan bercinta berkali-kali. Mereka mencoba berbagai gaya, dari yang biasa sampai yang paling liar.
Malam itu, mereka tidur dengan saling berpelukan. Rian merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Dia tidak hanya mendapatkan pacar yang cantik dan cerdas, tapi juga liar di ranjang.
“Sayang kamu, Neng,” bisik Rian sebelum tertidur.
Angel mengangguk lemah. “Aku juga sayang kamu, Mas.”
Keesokan paginya, mereka check out dari losmen dengan wajah lelah tapi bahagia. Rian mengantar Angel pulang dengan senyum di wajahnya.
“Nanti ketemu lagi ya, Sayang?” kata Rian saat Angel turun dari mobilnya.
Angel mengangguk. “Tunggu aku lulus SMA, ya. Biar kita bisa lebih sering ketemu.”
Rian tersenyum. “Oke, Sayang. Aku tunggu.”
Mereka berpisah dengan ciuman singkat di bibir, membawa kenangan panas yang akan mereka ingat untuk waktu yang lama.

