Thu. Jun 4th, 2026

Surya, talent manager yang sudah lima tahun menggeluti dunia event organizer, menatap jam tangannya dengan kesal. Sudah setengah jam lebih dari waktu yang disepakati, tapi MC yang akan dia briefing belum juga muncul di lobi hotel yang terletak di pinggiran kota ini. Ini adalah event penting untuk klien besar, dan kesalahan sekecil apa pun bisa merusak reputasinya.

“Ck, sial!” geramnya pelan sambil mengusir rasa jengkel yang mulai memuncak.

Tak lama kemudian, pintu lobi hotel terbuka dan seorang wanita masuk dengan tergesa-gesa. Rambutnya sedikit berantakan akibat angin, dan wajah cantiknya terlihat sedikit panik. Itu adalah Citra, MC yang sudah beberapa kali bekerja dengan EO tempat Surya bekerja. Meski wajahnya cantik memukau, hari ini Surya tidak punya waktu untuk menghargai kecantikannya.

“Nak, kamu telat setengah jam!” hardik Surya saat Citra mendekat. “Kamu tahu ini event penting? Klien bisa saja membatalkan kontrak karena kelalaian seperti ini!”

Citra menundukkan kepalanya, wajahnya memerah karena malu. “Maaf, Pak Surya. Tadi macet total di jalan. Saya sudah berangkat lebih awal, tapi tetap saja telat.”

“Alasan! Semua orang selalu punya alasan!” potong Surya masih dengan nada marah. “Ini kerjaan profesional, Nak. Kalau tidak bisa disiplin, lebih baik jangan ambil job.”

Tapi melihat Citra yang benar-benar menyesal dan tampak ketakutan, Surya mulai melunak. Dia tahu Citra memang MC yang berbakat dan selalu memberikan penampilan maksimal saat di panggung.

“Yaudah, sekarang juga kita briefing. Kita nggak punya banyak waktu,” kata Surya akhirnya sambil mengajak Citra ke sudut lobi yang lebih sepi.

Selama satu jam berikutnya, Surya menjelaskan detail acara, rundown, dan hal-hal penting yang harus Citra perhatikan. Citra mendengarkan dengan seksama, sesekali mencatat hal-hal penting di buku catatannya. Surya mulai terkesan dengan profesionalisme Citra, meskipun dia terlambat datang.

Acara malam itu berjalan lancar. Citra tampil memukau, suaranya yang merdu dan kemampuannya menguasai panggung membuat semua tamu terpukau. Surya yang memantau dari sisi panggung mengangguk-angguk puas. Wanita itu memang punya bakat luar biasa.

Setelah acara selesai, para tamu mulai beranjak pulang. Surya menyempatkan diri mendekati Citra yang masih sibuk membersihkan meja presenter-nya.

“Kerja bagus, Nak. Tadi kamu luar biasa,” puji Surya sambil menepuk bahu Citra pelan.

Citra menoleh dan tersenyum lebar. “Makasih, Pak. Maaf lagi tadi pagi sudah buat Bapak marah.”

“Sudahlah, lupakan. Yang penting acaranya sukses,” jawab Surya. “Mau ngobrol sebentar? Aku traktir minum di bar hotel.”

Ctra mengangguk antusias. Mereka berdua pun berjalan ke bar hotel yang tidak terlalu ramai. Surya memesan dua botol bir, sementara Citra memilih jus jeruk.

“Kok nggak ikut minum bir?” tanya Surya heran.

“Nanti, Pak. Saya takut mabuk,” jawab Citra malu-malu.

“Ah, santai saja. Sekali-sekali nggak papa. Lagi pula ini untuk merayakan kesuksesan acara tadi,” rayu Surya sambil memesankan segelas bir untuk Citra.

Awalnya Citra ragu, tapi akhirnya dia mau juga mencicipi bir yang disodorkan Surya. Mereka ngobrol banyak hal, dari pekerjaan hingga kehidupan pribadi. Bir pun terus mengalir, dan Citra yang awalnya hanya mencicipi, akhirnya ikut menenggak habis gelasnya.

Beberapa botol bir kemudian, Citra mulai terlihat sedikit mabuk. Wajahnya memerah dan gerakannya sedikit goyang. Surya sendiri juga sudah merasakan efek alkohol yang membuatnya sedikit pusing tapi tetap sadar.

“Kamu nginap di mana, Nak?” tanya Surya sambil menuang bir lagi ke gelas mereka.

“Di rumah teman, Pak. Tapi agak jauh dari sini,” jawab Citra sedikit melayang.

Surya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. “Wah udah larut banget. Mendingan nginep aja di kamarku. Kamar aku dapat yang double bed, jadi masih ada yang kosong.”

Citra langsung menggeleng. “Ah nggak usah, Pak. Repot.”

“Nggak repot, kok. Lagian kamu udah mulai mabuk begini, bahaya kalau pulang sendirian,” bujuk Surya sambil meletakkan tangannya di paha Citra.

Citra menepis tangan Surya pelan. “Beneran, Pak. Nggak usah.”

Tapi Surya tidak mudah menyerah. “Ayolah, Nak. Anggap saja ini hadiah dari aku karena kamu udah kerja bagus tadi. Aku juga nggak enak kalau kamu pulang sendirian dalam kondisi begini.”

Melihat Surya yang terus membujuk, Citra akhirnya menyerah juga. “Yaudah deh, kalau begitu. Tapi cuma tidur doang, lho!”

Surya tersenyum penuh kemenangan. “Tentu, Nak. Aku juga nggak punya niat lain.”

Di dalam kamar hotel, suasana mulai berubah. Surya menyalakan lampu redup yang menciptakan atmosfer intim. Citra duduk di tepi ranjang dengan wajah masih memerah karena alkohol.

“Mau ganti baju dulu? Punya baju tidur?” tanya Surya sambil membuka kemejanya.

Citra menggeleng. “Nggak bawa, Pak.”

“Yaudah, pake aja bajuku. Ntar kan kamu ganti lagi besok pagi,” kata Surya sambil melemparkan kaos obongnya ke arah Citra.

Citra menangkap kaos itu dengan ragu. “Di mana ganti bajunya, Pak?”

“Sini aja, di kamar mandi. Nggak usah malu-malu, kan kita sudah saling mengenal,” goda Surya.

Setelah Citra masuk kamar mandi, Surya melepas semua pakaiannya hingga telanjang bulat. Dia menyelipkan selimut hanya sampai sebatas pinggangnya, menunggu Citra keluar.

Beberapa menit kemudian, Citra keluar dari kamar mandi hanya memakai kaos obong milik Surya. Kaos itu terlalu besar untuk tubuhnya, sehingga bagian pahanya yang mulus terlihat jelas. Surya menelan ludah saat melihat pemandangan itu.

“Kenapa, Pak? Kok cuma duduk diam aja?” tanya Citra sambil duduk di tepi ranjang sebelah Surya.

“Nggak, cuma… kamu kelihatan cantik pake kaos aku,” jawab Surya dengan suara serak.

Citra tersipu malu. “Ah, Pak Surya bisa aja.”

Mereka berdua berbaring di ranjang dengan jarak yang cukup dekat. Surya bisa mencium aroma wangi tubuh Citra yang bercampur dengan bau alkohol. Dia merasakan gairahnya mulai bangkit.

“Kamu nggak bisa tidur?” tanya Surya pelan.

Citra menggeleng. “Lagi, Pak. Kepala saya pusing.”

“Begini aja, biar aku pijitin,” kata Surya sambil membalikkan badan Citra.

Tangannya mulai memijat lembut pundak Citra. Sentuhan pertama membuat Citra menggelinjang pelan. Surya terus memijat pundak itu, perlahan turun ke punggung, lalu ke pinggang.

“Enak, Pak,” gumam Citra dengan mata tertutup.

Surya tersenyum. Tangannya mulai bergerak lebih bebas, menyusuri setiap lekuk tubuh Citra dari balik kaos yang dikenakannya. Dia merasakan tubuh Citra mengeras saat tangannya menyentuh paha bagian dalam.

“Pak… nggak usah…,” desah Citra pelan.

“Tenang, Nak. Aku cuma mau bikin kamu rileks,” jawab Surya sambil terus mengelus paha Citra.

Surya membalikkan badan Citra hingga mereka saling berhadapan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Surya bisa melihat nafsu di mata Citra yang mulai membesar.

Tanpa ragu, Surya mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Citra. Awalnya Citra mencoba menolak, tapi Surya memperkuat ciumannya. Akhirnya Citra membalas ciuman itu dengan gemulai.

Bibir mereka saling menggilas, lidah mereka berpagutan. Tangan Surya mulai masuk ke dalam kaos Citra, meremas payudaranya yang kenyal. Citra mendesah nikmat saat putingnya dijepit pelan.

“Pak… ah…,” desahnya di antara ciuman.

Surya melepas kaos yang dikenakan Citra, sehingga kini mereka berdua telanjang bulat. Surya menatap tubuh Citra dari atas ke bawah. Payudaranya yang padat dengan puting yang sudah mengeras, perutnya yang rata, dan bulu kemaluannya yang lebat terawat.

“Kamu sempurna, Nak,” gumam Surya sebelum menunduk dan mengulum payudara Citra.

Citra menjerit nikmat saat lidah Surya bermain-main di putingnya. Tangannya meremas rambut Surya, mendorongnya agar lebih dalam mengulum payudaranya.

“Pak… terus… ah…,” desah Citra tanpa henti.

Surya pindah ke payudara sebelahnya, memberikan perlakuan yang sama. Tangannya sibuk meremas payudara yang satunya sementara mulutnya terus mengulum yang lain.

Setelah puas bermain dengan payudara Citra, Surya turun ke bawah. Dia menjilati perut Citra yang rata, lalu menuju ke selangkangannya. Bau anyir kemaluan Citra menusuk hidungnya, membuat nafsunya semakin memuncak.

“Ah, Pak! Jangan di situ!” seru Citra saat Surya hendak menjilati kemaluannya.

Tapi Surya tidak peduli. Dia menjilati bibir kemaluan Citra yang sudah basah, lalu menghisap klitorisnya yang menonjol. Citra menjerit-jerit tak karuan saat gairahnya meluap-luap.

“Ah… ah… Pak… nikmat… ah!,” teriak Citra sambil menggigit bantal.

Surya terus mengulum kemaluan Citra sampai dia merasakan tubuh Citra menegang dan cairan hangat menyembur dari kemaluannya. Citra mencapai orgasme pertamanya malam itu.

“Sebentar, Nak. Aku keluarin dulu,” kata Surya sambil bangkit dan mengambil kondom dari dompetnya.

Setelah memakai kondom, Surya kembali ke ranjang. Dia menyebarangkan kaki Citra lebar-lebar, lalu menempelkan kemaluannya yang sudah mengeras ke lubang kemaluan Citra.

“Ahh…,” desah keduanya saat Surya mulai memasukkan kemaluannya ke dalam Citra.

Lubang kemaluan Citra terasa sangat sempit dan hangat. Surya merasakan nikmat yang luar biasa saat kemaluannya masuk seluruhnya ke dalam.

“Kamu masih perawan, Nak?” tanya Surya heran.

Citra menggeleng lemah. “Nggak, Pak. Tapi… ah… sudah lama nggak…,” jawabnya terengah-engah.

Surya mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Setiap dorongan membuat Citra mendesah nikmat. Dia mempercepat gerakannya, menghujam kemaluannya lebih dalam dan keras.

“Pak… ah… terus… lebih keras…,” desah Citra sambil meremas punggung Surya.

Surya memenuhi permintaan Citra. Dia menggenjot Citra dengan liar, membuat ranjang berderak-derak. Payudara Citra yang bergoyang-goyang setiap kali Surya menancapkan kemaluannya membuat nafsunya semakin menjadi-jadi.

“Pak… aku… ah… mau keluar lagi…,” seru Citra.

“Sama, Nak. Aku juga mau keluar,” jawab Surya sambil mempercepat gerakannya.

Beberapa dorongan kemudian, mereka mencapai orgasme bersamaan. Surya menyemprotkan cairannya ke dalam kondom sementara Citra kembali mengejang nikmat.

Mereka berdua terkulai lemas di ranjang, berkeringat dan nafasnya tersengal-sengal. Surya mencium Citra lembut di dahi.

“Kamu hebat, Nak,” bisiknya.

“Kamu juga, Pak,” jawab Citra dengan senyum lemas.

Mereka beristirahat sejenak, berpelukan sambil mencoba menenangkan nafas mereka yang masih memburu. Tapi tidak lama kemudian, Surya merasakan kemaluannya kembali bangkit. Dia melirik Citra yang masih menutup mata dengan senyum puas di wajahnya.

“Round dua, Nak?” goda Surya sambil mengelus paha Citra.

Citra membuka matanya dan tersenyum. “Kalau kamu kuat, Pak.”

Surya tersenyum penuh kemenangan. Dia membalikkan badan Citra hingga posisi nungging. Dari belakang, Surya bisa melihat belahan pantat Citra yang montok dan lubang kemaluannya yang masih basah.

“Ayo, nak. Jangkang yang lebar,” perintah Surya.

Citra menurut. Dia menjangkangkan kakinya lebar-lebar, memberikan akses yang mudah bagi Surya. Tanpa basa-basi, Surya kembali memasukkan kemaluannya ke dalam lubang kemaluan Citra.

“Ahh…,” desah Citra saat Surya mulai menggerakkan pinggulnya.

Dari posisi ini, Surya bisa menancapkan kemaluannya lebih dalam. Setiap hujaman membuat Citra menjerit nikmat. Surya meremas pantat Citra sambil terus menggenjotnya dari belakang.

“Pak… ah… terus… jangan berhenti…,” pinta Citra sambil menggigit bantal.

Surya mempercepat gerakannya, membuat pantat Citra bergoyang-goyang liar. Dia meraih payudara Citra dari belakang, meremasnya dengan kuat.

“Ah… ah… Pak… aku… ah… mau keluar lagi…,” seru Citra.

“Sabar, Nak. Tahan dulu,” jawab Surya sambil memperlambat gerakannya.

Dia menarik kemaluannya hingga hampir keluar, lalu menancapkannya kembali dengan keras. Citra menjerit kejut setiap kali Surya melakukan itu.

“Pak… jahat… ah…,” desah Citra di antara jeritan nikmat.

Surya tersenyum. Dia terus melakukan gerakan itu beberapa kali, membuat Citra semakin liar. Akhirnya dia tidak bisa menahan lagi, dia menggenjot Citra dengan cepat sampai mereka berdua mencapai orgasme untuk kedua kalinya.

Mereka berdua ambruk ke ranjang, benar-benar kelelahan. Surya mencabut kemaluannya dan melempar kondom yang sudah penuh ke tempat sampah. Dia memeluk Citra dari belakang, mencium lehernya.

“Kamu puas, Nak?” bisiknya.

Citra mengangguk lemah. “Sangat puas, Pak.”

Mereka tertidur dalam posisi berpelukan, tubuh mereka masih telanjang dan basah oleh keringat.


Keesokan paginya, Surya terbangun oleh sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar. Dia merasakan tubuh hangat di pelukannya. Citra masih tertidur pulas dengan wajah yang tenang.

Surya tersenyum. Dia mengelus rambut Citra pelan, membangunkannya perlahan. Citra menggeliat pelan lalu membuka matanya.

“Pagi, Nak,” sapa Surya dengan suara serak.

Citra tersenyum. “Pagi, Pak.”

Tanpa bicara banyak, Surya menarik Citra ke dalam ciuman. Bibir mereka saling menggilas dengan penuh nafsu. Tangan Surya kembali meremas payudara Citra yang masih telanjang.

“Pak… lagi…?” tanya Citra di antara ciuman.

Surya mengangguk. “Kamu mau, kan?”

Citra menjawab dengan menarik Surya ke dalam ciuman yang lebih dalam. Surya naik ke atas Citra, menyebarangkan kakinya lebar-lebar. Tanpa kondom kali ini, Surya langsung menusukkan kemaluannya ke lubang kemaluan Citra yang sudah basah.

“Ahh…,” desah keduanya saat Surya mulai menggerakkan pinggulnya.

Mereka bercinta dengan penuh gairah pagi itu. Surya menggenjot Citra dengan berbagai gaya, dari misionaris sampai women on top. Citra yang sudah lebih berani naik ke atas Surya, menggerakkan pinggulnya dengan liar.

“Pak… ah… aku… mau… keluar…,” desah Citra.

“Sama, Nak. Aku juga mau keluar,” jawab Surya sambil mempercepat gerakannya.

Mereka mencapai orgasme bersamaan untuk ketiga kalinya. Surya menyemprotkan cairannya ke dalam kemaluan Citra, membuat Citra menjerit nikmat.

Setelah puas, mereka berdua mandi bersama. Di kamar mandi, Surya tidak bisa menahan nafsunya lagi. Dia menekan Citra ke dinding kamar mandi, lalu memasukkan kemaluannya dari belakang.

“Pak… di sini… ah…?” desah Citra kaget.

“Tenang, Nak. Ini bakal seru,” jawab Surya sambil menggenjot Citra di bawah shower air hangat.

Mereka bercinta lagi di kamar mandi sampai Citra mencapai orgasme lagi. Setelah mandi, mereka sarapan pagi di restoran hotel. Makan siang itu terasa lebih nikmat dengan saling goda dan sentuhan di bawah meja.

Selesai makan, mereka kembali ke kamar. Surya mengajak Citra berenang di kolam renang hotel. Di kolam renang yang sepi, Surya tidak bisa menahan tangannya untuk meremas-remas payudara Citra yang tersembunyi di balik baju renangnya.

“Pak, nanti ada orang,” bisik Citra sambil menepis tangan Surya.

“Tenang, nggak ada siapa-siapa,” jawab Surya sambil menarik Citra ke sudut kolam yang lebih sepi.

Di sana, Surya menurunkan baju renang Citra, membebaskan payudaranya yang kenyal. Dia mengulum payudara itu di bawah air, membuat Citra mendesah nikmat.

“Pak… ah… jangan di sini…,” desah Citra setengah menolak.

Tapi Surya tidak peduli. Dia terus mengulum payudara Citra sambil tangannya sibuk mengelus kemaluannya dari balik baju renang.

Mereka kembali ke kamar setelah puas berenang. Surya memutuskan untuk memperpanjang masa menginap mereka satu hari lagi. Di kamar, mereka langsung bercinta lagi dengan penuh nafsu.

Hari itu mereka habiskan dengan bercinta berkali-kali. Setiap kali Surya merasa lelah, Citra yang malah membangunkannya dengan ciuman dan elusan. Mereka mencoba berbagai gaya, dari yang biasa sampai yang paling liar.

Malam itu, mereka minum bir lagi di kamar. Kali ini mereka telanjang bulat, sambil saling memainkan kemaluan masing-masing.

“Kamu suka dimainin seperti ini?” tanya Surya sambil mengelus-elus kemaluan Citra yang sudah basah.

Citra mengangguk sambil mengocok kemaluan Surya yang sudah mengeras. “Suka, Pak. Apalagi kalau kamu mainkan dengan mulutmu.”

Surya tersenyum. Dia menunduk dan mengulum kemaluan Citra sambil Citra mengulum kemaluannya dalam posisi 69. Mereka saling mengoral sampai keduanya mencapai orgasme.

Setelah puas, Surya membaringkan Citra. Dia menaikkan kedua kaki Citra ke bahunya, lalu menancapkan kemaluannya ke dalam lubang kemaluan Citra.

“Ahh…,” desah Citra saat Surya mulai menggerakkan pinggulnya.

Dari posisi ini, Surya bisa menancapkan kemaluannya sangat dalam. Setiap hujaman membuat Citra menjerit nikmat. Surya menggenjot Citra dengan liar sampai mereka berdua mencapai orgasme bersamaan.

Keesokan harinya, mereka bercinta lagi setelah sarapan. Kali ini di kamar mandi sambil mandi bersama. Setelah puas, mereka akhirnya check out dari hotel dengan wajah lelah tapi bahagia.

“Nanti kalau ada job lagi, kita nginep lagi ya, Nak?” goda Surya saat mereka berpisah di pintu hotel.

Citra tersenyum. “Tunggu dulu, Pak. Kasih kesempatan aku pulih dulu,” jawabnya bercanda.

Surya tertawa. “Oke, Nak. Tapi aku tunggu ya.”

Mereka berpisah dengan senyum di wajah masing-masing, membawa kenangan panas yang akan mereka ingat untuk waktu yang lama.