Namaku Riko, usiaku 27 tahun, dan aku baru saja pindah ke sebuah kompleks perumahan yang cukup tenang di pinggiran kota. Aku bekerja sebagai seorang programmer di sebuah perusahaan teknologi, yang memaksaku untuk sering bekerja hingga larut malam. Rumahku bersebelahan dengan pasangan muda, suaminya bernama Anton dan istrinya bernama Siska.
Anton adalah pria yang cukup baik, tapi dia memiliki kebiasaan buruk—dia suka minum-minum hingga mabuk berat. Sementara itu, Siska adalah wanita yang menawan. Usianya sekitar 25 tahun, dengan tubuh yang menggairahkan. Payudaranya yang besar selalu menonjol meskipun dia mengenakan pakaian yang sopan, dan pantatnya yang bulat membuat setiap pria yang melihatnya pasti tergoda.
Aku pertama kali bertemu mereka saat aku pindah ke rumah baruku. Anton datang untuk menyambutku, membawa sebotol bir sebagai hadiah.
“Selamat datang di lingkungan kami, Bro! Namaku Anton, ini istriku, Siska,” katanya dengan suara yang sedikit slurring karena mungkin sudah minum sejak siang.
“Senang bertemu kalian. Namaku Riko,” jawabku sambil menjabat tangannya.
Siska tersenyum manis. “Selamat datang, Pak Riko. Jika ada yang bisa kami bantu, jangan ragu untuk memberi tahu kami.”
Aku tidak bisa berhenti mencuri pandang ke arahnya. Bahkan dengan pakaian rumahan biasa, Siska tetap terlihat sangat menggoda. Aku membayangkan betapa nikmatnya jika bisa meremas payudaranya yang besar, menjilati putingnya hingga mengeras.
Beberapa minggu berikutnya, aku sering melihat Anton pulang dalam keadaan mabuk. Kadang-kadang aku mendengar mereka bertengkar keras di tengah malam. Aku merasa kasihan pada Siska, yang harus menanggung suaminya yang pemabok itu.
Suatu malam, aku sedang bekerja di laptopku ketika aku mendengar ketukan pintu. Aku membuka pintu dan melihat Siska berdiri di sana dengan mata yang berkaca-kaca.
“Maaf mengganggu, Pak Riko. Boleh saya pinjam gula sedikit? Anton sudah tidur dan saya tidak mau membangunkannya,” katanya dengan suara pelan.
“Tentu saja, Bu Siska. Silakan masuk,” jawabku sambil membukakan pintu lebar-lebar.
Siska masuk ke dalam rumahku dan duduk di sofa ruang tamu. Aku memberinya segelas air putih, yang diterimanya dengan senyum lemah.
“Maaf kalau saya mengganggu, Pak Riko. Anton mabuk lagi dan dia membuat saya kesal,” katanya sambil mengusap air matanya.
“Tidak apa-apa, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku dengan nada prihatin.
Siska menggeleng. “Tidak, ini hanya masalah rumah tangga biasa. Saya hanya butuh udara segar sebentar.”
Aku duduk di sebelahnya, mencoba menjaga jarak yang sopan. Tapi aroma wangi tubuhnya membuatku tidak bisa berkonsentrasi. Aku merasakan kontolku mulai mengeras dalam celanaku.
“Bu Siska… jika tidak keberatan, boleh saya tahu apa masalahnya?” tanyaku ragu.
Siska menatapku dengan mata yang sedikit memerah. “Anton… dia tidak pernah memperhatikanku lagi. Sejak dia kecanduan minuman, dia tidak pernah lagi menyentuhku.”
Aku terkejut mendengarnya. “Maksudmu…?”
Siska mengangguk pelan. “Ya, Pak Riko. Kami sudah tidak berhubungan intim selama berbulan-bulan. Aku merasa kesepian.”
Jantungku berdegup kencang. Apa ini kesempatanku? Apa dia memberiku sinyal?
“Bu… saya tidak tahu harus bilang apa,” jawabku bingung.
Siska mendekatkan wajahnya ke arahku. “Pak Riko… apakah kamu menemukanku menarik?”
Aku menelan ludah. “Tentu saja, Bu. Kamu sangat cantik.”
Siska tersenyum. “Aku sering melihat cara kamu melihatku. Aku tahu kamu menginginkanku.”
Sebelum aku bisa menjawab, Siska sudah mencium bibirku. Aku terkejut, tapi hanya sesaat. Nafsu sudah terlalu kuat untuk melawan. Aku membalas ciumannya dengan penuh gairah, merasakan kelembutan bibir tetanggaku.
Tanganku mulai meremas payudaranya dari luar dasternya. Siska mendesah nikmat di dalam ciuman kami. Aku merasakan putingnya mengeras melalui kain tipis dasternya.
“Pak Riko… kita tidak boleh… Anton ada di rumah sebelah,” desah Siska di antara ciuman.
“Tidak apa-apa, Bu. Dia pasti sudah tidur pulas karena mabuk,” jawabku sambil terus menciumnya.
Aku mengangkat tubuh Siska dan membawanya ke kamar tidurku. Aku meletakkannya dengan lembut di tempat tidur dan mulai membuka pakaiannya satu per satu.
Payudara Siska yang besar dan kenyal langsung terpampang jelas di depanku. Aku langsung menjilati dan menghisap putingnya yang sudah mengeras.
“Ahh… Pak Riko… terus… remas payudaraku… ah…” desahnya.
Tangan Siska mulai membuka celanaku, dan kontolku yang sudah keras langsung melompat keluar. Siska menggenggam kontolku dengan gemetar.
“Wow… kontolmu besar sekali, Pak Riko,” katanya kagum.
Aku membuka celana dalam Siska, dan aku melihat memeknya yang sudah basah dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Aku mulai menjilati memeknya yang basah, dan Siska menggelinjang nikmat.
“Ahh… ya… jilat memek aku… ah… jilatin klit aku… ah…” desahnya.
Aku menjilati memek Siska dengan penuh nafsu, sambil sesekali menusukkan jariku ke dalamnya. Siska semakin liar, meremas rambutku dan mendorong kepalaku ke memeknya.
“Aku mau dimasukin, Pak… masukin kontolmu sekarang juga…” pinta Siska.
Aku menaiki tubuh Siska dan mulai memasukkan kontolku ke dalam memeknya. Aku merasakan memek Siska yang sangat hangat dan basah. Kontolku masuk dengan mudah karena memeknya sudah sangat basah.
“Ahh… ya… besar sekali… ah… terus… kocok memek aku…” desah Siska.
Aku mulai mengocok kontolku keluar masuk memek Siska dengan ritme yang pelan dulu, lalu semakin cepat. Siska meremas punggungku dan mengangkat pantatnya setiap kali aku menekan kontolku dalam-dalam.
“Ahh… ya… seperti itu… ah… aku mau keluar… ah…” desah Siska.
“Aku juga mau, Bu… ah… ah… ah…” jawabku.
Beberapa saat kemudian, kami sama-sama mencapai orgasme. Aku menyemprotkan spermaku ke dalam memek Siska, sementara Siska menggelinjang nikmat di bawahku.
Setelah itu, kami berbaring sejenak untuk memulihkan tenaga. Siska memelukku erat-erat.
“Itu adalah ngentot terbaik yang pernah aku rasakan, Pak Riko,” katanya sambil mencium keningku.
“Aku juga, Bu. Aku tidak menyangka kita akan melakukan ini,” jawabku jujur.
Siska tertua. “Aku sudah lama tidak merasakan kenikmatan seperti ini. Anton sudah lama tidak memperhatikanku.”
Aku memeluknya balik. “Jika Bu Siska mau, kita bisa melakukan ini lagi.”
Siska tersenyum. “Tentu saja, Pak Riko. Aku mau ngentot dengan kamu lagi dan lagi.”
Tiba-tiba, kami mendengar suara keras dari rumah sebelah.
“SISKA! KAMU DI MANA?!” teriak Anton dengan suara mabuk.
Kami langsung panik. Siska langsung bangun dan memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa.
“Aku harus kembali, Pak Riko. Maaf,” katanya sambil menciumku cepat.
“Tidak apa-apa, Bu. Hati-hati,” jawabku.
Siska keluar dari rumahku dengan hati-hati, dan aku melihatnya masuk ke rumahnya. Aku mendengar suara mereka bertengkar lagi, tapi kali ini aku hanya tersenyum. Aku sudah merasakan kenikmatan yang selama ini kudambakan.
Beberapa hari kemudian, Siska datang lagi ke rumahku. Kali ini, dia mengenakan daster yang sangat ketat dan transparan, tanpa mengenakan bra.
“Anton pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Bisakah kamu menemaniku, Pak Riko?” katanya dengan suara manja.
Aku tersenyum. “Tentu saja, Bu Siska.”
Kami langsung masuk ke kamar tidur dan melepas semua pakaian kami. Kali ini, kami lebih santai karena tidak ada yang akan mengganggu kami.
“Aku kangen kontolmu, Pak Riko,” kata Siska sambil menggenggam kontolku yang sudah keras.
“Aku juga kangen memekmu, Bu Siska,” jawabku sambil meremas payudaranya.
Kami berciuman dengan penuh nafsu, lalu aku menjilati memeknya hingga basah. Siska mendesah nikmat saat aku menjilati klitnya.
“Ahh… ya… jilat memek aku… ah… nikmat sekali…” desahnya.
Setelah memeknya basah, aku memasukkan kontolku ke dalamnya. Aku mengocok kontolku keluar masuk memeknya dengan penuh nafsu.
“Ahh… ya… kocok memek aku… ah… terus… ah…” desah Siska.
Kali ini, kami mencoba beberapa posisi yang berbeda. Kami mencoba posisi woman on top, di mana Siska menaik turunkan tubuhnya di atas kontolku. Kami juga mencoba posisi spooning, di mana aku mengocok kontolku dari samping sambil meremas payudaranya.
“Ahh… ya… nikmat sekali… ah… aku mau keluar… ah…” desah Siska.
“Aku juga mau, Bu… ah… ah… ah…” jawabku.
Kami sama-sama mencapai orgasme, dan aku menyemprotkan spermaku ke dalam memek Siska.
Setelah itu, kami berbaring sejenak.
“Pak Riko, aku mau ngentot lagi. Tapi kali ini, aku mau yang lebih keras,” kata Siska bernafsu.
Aku tersenyum. “Tentu saja, Bu. Aku akan ngentot Bu Siska sekeras yang aku bisa.”
Aku memposisikan Siska dalam posisi nungging lagi, dan kali ini aku mengocok kontolku keluar masuk anusnya dengan sangat keras. Siska menjerit nikmat setiap kali aku menekan kontolku dalam-dalam.
“Ahh… ya… keras lagi… ah… nikmat sekali… ah…” desahnya.
Aku meremas pantatnya dan menamparnya pelan, membuat Siska semakin bernafsu.
“Ahh… ya… tampar pantat aku… ah… aku mau lagi… ah…” desahnya.
Aku mengocok kontolku semakin keras, dan Siska semakin liar. Akhirnya, kami sama-sama mencapai orgasme lagi.
Setelah itu, kami sangat kelelahan. Kami tertidur dalam pelukan satu sama lain.
Keesokan paginya, kami dibangunkan oleh suara ketukan pintu.
“SISKA! KAMU DI MANA?!” teriak Anton dari luar.
Kami langsung panik. Siska langsung bangun dan memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa.
“Aku harus kembali, Pak Riko. Anton sudah pulang,” katanya sambil menciumku cepat.
“Tidak apa-apa, Bu. Hati-hati,” jawabku.
Siska keluar dari rumahku dengan hati-hati, dan aku melihatnya masuk ke rumahnya. Aku mendengar suara mereka bertengkar lagi, tapi kali ini aku hanya tersenyum. Aku sudah merasakan kenikmatan yang selama ini kudambakan.
Beberapa hari kemudian, Anton datang ke rumahku. Aku khawatir dia sudah tahu apa yang telah terjadi antara aku dan istrinya.
“Bro, mau pinjam laptopmu sebentar. Punyaku rusak,” katanya dengan suara yang sepertinya sudah mabuk lagi.
Aku lega mendengarnya. “Tentu saja, Bro. Silakan masuk.”
Anton masuk ke dalam rumahku dan duduk di sofa ruang tamu. Aku memberinya laptopku, dan dia mulai menggunakannya.
“Bro, kamu punya pacar?” tanyanya tiba-tiba.
Aku terkejut dengan pertanyaannya. “Belum, Bro. Lagi fokus kerja dulu.”
“Oh… sayang sekali. Kamu tamat lho,” katanya sambil tertawa.
Aku hanya tersenyum. Aku tidak tahu harus bilang apa.
“Bro, apa kamu pernah ngentot dengan istri orang?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.
Aku menelan ludah. “Tentu tidak, Bro. Itu dosa.”
Anton tertawa. “Dosa apa? Yang penting kita nikmati hidup ini. Aku sering ngentot dengan wanita lain di luar sana. Siska tidak tahu itu.”
Aku terkejut mendengarnya. Apa Anton juga selingkuh di belakang Siska?
“Bro, kamu jangan bilang Siska ya. Ini rahasia kita,” katanya sambil menepuk bahuku.
Aku hanya mengangguk. Aku tidak tahu harus bilang apa.
Setelah Anton pergi, aku merasa bingung. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memberitahu Siska?
Keesokan harinya, Siska datang lagi ke rumahku. Kali ini, dia menangis.
“Apa yang terjadi, Bu?” tanyaku khawatir.
“Anton… dia mengaku sudah sering selingkuh di belakangku,” katanya sambil menangis.
Aku terkejut. Apa aku harus memberitahu Siska bahwa Anton sudah mengatakannya padaku?
“Aku… aku juga tahu, Bu,” jawabku ragu.
Siska menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. “Maksudmu?”
“Kemarin, Anton datang ke rumahku dan mengakuinya padaku,” jawakuku jujur.
Siska menangis lebih keras. “Aku tidak percaya dia sudah berbuat seperti ini padaku.”
Aku memeluknya erat-erat. “Jangan menangis, Bu. Aku di sini untukmu.”
Siska mengangkat wajahnya. “Pak Riko… apakah kamu mau menikahiku?”
Aku terkejut dengan pertanyaannya. “Apa?”
“Aku serius, Pak Riko. Aku mau cerai dengan Anton dan menikah denganmu,” katanya dengan mata yang memohon.
Aku bingung harus bagaimana. Aku suka Siska, tapi aku tidak yakin aku siap untuk menikahinya.
“Bu… ini terlalu tiba-tiba,” jawabku ragu.
Siska tersenyum sedih. “Aku tahu ini terlalu mendadak. Tapi aku sudah tidak tahan lagi dengan Anton.”
Aku memeluknya lagi. “Berikan aku waktu untuk berpikir, Bu.”
Siska mengangguk. “Tentu, Pak Riko. Aku akan menunggumu.”
Beberapa hari kemudian, aku membuat keputusan. Aku akan menikahi Siska. Aku tahu ini mungkin salah, tapi aku tidak bisa menahan perasaan cinta yang aku rasakan untuknya.
Aku memberitahukan keputusanku pada Siska, dan dia sangat senang. Kami mulai merencanakan perceraian Siska dengan Anton dan pernikahan kami.
Tapi sebelum itu, kami ingin menikmati satu malam terakhir yang penuh nafsu. Kali ini, kami ngentot di rumah Siska, di depan Anton yang sedang mabuk berat di sofa ruang tamu.
“Apa ini tidak terlalu berisiko, Bu?” tanyaku ragu.
Siska tersenyum nakal. “Tidak, Pak Riko. Anton pasti tidak akan bangun hingga besok pagi.”
Kami ngentot dengan penuh nafsu, mencoba berbagai posisi yang kami belum coba sebelumnya. Aku mengocok kontolku keluar masuk memeknya yang basah, membuat Siska mendesah nikmat.
“Ahh… ya… kocok memek aku… ah… terus… ah…” desah Siska.
“Aku mau ngentot kamu terus, Bu… ah… ah… ah…” kataku.
Setelah kami puas, kami berbaring sejenak.
“Aku tidak sabar untuk menikahimu, Pak Riko,” kata Siska sambil tersenyum.
“Aku juga tidak sabar untuk menikahimu, Bu Siska,” jawabku sambil menciumnya.
Beberapa minggu kemudian, Siska resmi bercerai dengan Anton. Tentu saja, Anton sangat marah, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena dia yang sudah selingkuh terlebih dahulu.
Aku dan Siska menikah secara sederhana di kantor KUA. Kami pindah ke rumah baru yang jauh dari kompleks perumahan sebelumnya, untuk menghindari Anton.
Kehidupan kami berjalan bahagia. Siska adalah istri yang sempurna—cantik, pintar, dan perhatian. Kami ngentot hampir setiap malam, mencoba berbagai posisi dan fantasi yang membuat kami semakin dekat.
Tapi suatu hari, kami mendapat tamu yang tak terduga—Anton. Dia datang ke rumah kami dengan muka mabuk.
“Siska… aku mau kamu kembali,” katanya dengan suara mabuk.
Siska menatapnya dengan dingin. “Anton, kita sudah bercerai. Aku sudah menikah dengan Riko.”
Anton menatapku dengan mata merah. “Kamu… kamu yang merusak pernikahanku!”
Aku mencoba tenang. “Anton, kamu sudah selingkuh terlebih dahulu. Siska hanya mencari kebahagiaan.”
Anton tertawa histeris. “Kebahagiaan? Apa kamu pikir kamu bisa membuatnya bahagia?”
Tiba-tiba, Anton mengeluarkan pisau dari sakunya. Aku dan Siska langsung panik.
“Anton, jangan melakukan hal bodoh!” teriakku.
Anton tidak mendengarkanku. Dia menyerangku dengan pisau itu. Aku menghindarinya, tapi tanganku tergores pisau itu.
Siska menjerit histeris. Anton menyerangku lagi, tapi kali ini aku berhasil menendang pisau dari tangannya. Anton jatuh ke lantai, dan aku langsung memegangnya.
“Polisi! Aku sudah menelepon polisi!” teriak Siska dari kejauhan.
Beberapa saat kemudian, polisi datang dan menangkap Anton. Aku dibawa ke rumah sakit untuk merawat lukaku.
Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku dan Siska memutuskan untuk pindah ke kota lain. Kami tidak mau lagi diganggu oleh Anton.
Kehidupan kami di kota baru berjalan dengan baik. Aku mendapat pekerjaan yang lebih baik, dan Siska membuka toko bunga kecil. Kami bahagia bersama, meskipun kami masih sering mengingat malam pertama kami yang penuh dosa dan nafsu.
Itulah ceritaku tentang bagaimana aku menikmati ngentot dengan tetanggaku di depan suaminya yang mabuk. Aku tahu ini mungkin salah, tapi aku tidak bisa menahan perasaan bahagia yang aku rasakan setiap kali aku bersama Siska. Dan aku berharap kami bisa terus bahagia bersama, tidak peduli apa pun orang lain katakan.
Apakah kamu pernah mengalami pengalaman serupa dengan hubungan terlarang yang berakhir dengan pernikahan?

