Riko tidak bisa berhenti memandang. Setiap kali tantenya, Tante Siska, berjalan melewati ruang tamu, matanya selalu terpaku pada gerakan tubuhnya yang menggoda. Tante Siska, janda berusia 35 tahun, adalah definisi sempurna dari seorang ibu rumah tangga yang menjelma menjadi dewi seks. Tubuhnya montok di tempat-tempat yang tepat. Payudaranya yang besar dan kencang seolah-olah selalu berusaha membebaskan diri dari kaus oblong yang biasa ia pakai di rumah. Apalagi pantatnya. Oh, pantatnya itu adalah mahakarya. Bulat, kenyal, dan berisi, yang sempurna dibentuk oleh daster ketat yang sering ia kenakan. Bagi Riko, seorang lelaki belasan tahun yang sedang dalam puncak-puncaknya hormon, Tante Siska adalah walking temptation.
Riko tinggal bersama Tante Siska sejak orang tuanya pindah ke luar kota. Ia menyebutnya tinggal, tapi sebenarnya ini adalah surga dan neraka baginya. Surga karena ia bisa memandangi dewi kesepuluhannya setiap hari. Neraka karena ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menahan nafsu yang membara di dalam dirinya.
Obsesi Riko dimulai dari hal-hal kecil. Ia suka mencuri-curi waktu untuk mengintip Tante Siska saat sedang tidur siang. Pintu kamarnya yang tidak pernah dikunci sepenuhnya menjadi celah kesempatan bagi Riko. Ia akan mengintip perlahan, melihat dada Tante Siska yang naik turun dengan tertatih, kadang-kadang kaus oblongnya terangkat sedikit, memperlihatkan perutnya yang mulus dan sedikit gendut. Riko akan mengocok kontolnya yang sudah keras di balik celananya, membayangkan dirinya meremas payudara besar itu.
Tapi itu masih belum cukup. Riko menginginkan lebih. Ia mulai berani mengintip saat Tante Siska mandi. Kamar mandi di rumah itu memiliki jendela kecil di bagian atas yang kadang-kadang lupa ditutup. Riko akan menggunakan kursi untuk memanjat dan mengintip dari sana. Ia bisa melihat tubuh telanjang Tante Siska yang basah dan berkilauan. Air mengalir di punggungnya, di antara dua belahan pantatnya yang sempurna, dan di payudaranya yang menggantung indah. Riko akan mengocok kontolnya dengan ganas, membayangkan dirinya menjilati setiap inci tubuh tantenya itu. Ia bahkan pernah melihat Tante Siska jongkok di kamar mandi, bukan untuk mandi, tapi untuk buang air besar. Riko tidak tahu kenapa, tapi pemandangan itu membuatnya semakin bernafsu. Ia membayangkan lubang pantatnya yang menganga, dan ia ingin memasukkan sesuatu ke dalamnya.

Hari itu, Riko merasa nafsunya sudah tidak bisa ditahan lagi. Tante Siska sedang mencuci baju di belakang rumah, membungkuk di atas bak cucian. Daster yang ia pakai sangat ketat, dan ketika ia membungkuk, pantatnya yang montok terlihat sangat jelas. Bahkan garis celana dalamnya terlihat jelas menembus kain itu. Riko, yang seharusnya belajar di kamarnya, tidak bisa konsentrasi. Ia keluar, pura-pura mau minum, tapi matanya terus memandang pantat Tante Siska.
Tante Siska merasakan ada yang memandangnya. Ia menoleh, dan melihat Riko yang sedang menatap pantatnya dengan mata melotot. Tapi Riko cepat-cepat mengalihkan pandangannya, pura-pura sedang melihat ke taman. Tante Siska mengangkat alis, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Riko kembali ke kamarnya, tapi nafsunya sudah memuncak. Ia membuka celananya, mengeluarkan kontolnya yang sudah keras sekali. Ia mulai mengocoknya, membayangkan Tante Siska yang tadi, membungkuk dengan pantatnya yang menggoda. Ia ingin sekali meremasnya, menjilatinya, bahkan menancapkan kontolnya ke dalam lubang pantatnya.
Tapi ia ingin lebih. Ia ingin melihat yang asli. Ia keluar lagi, dengan hati-hati mendekati kamar Tante Siska. Pintunya sedikit terbuka. Riko mengintip dari celah itu. Tante Siska sedang berbaring di tempat tidur, mungkin istirahat setelah mencuci baju. Ia memakai daster yang sama, tapi kali ini kancingnya di bagian dada terbuka beberapa, memperlihatkan belahan payudaranya yang dalam dan lembut.
Riko tidak bisa menahan diri. Ia membuka celananya, mengeluarkan kontolnya, dan mulai mengocoknya dengan pelan. Ia menatap payudara Tante Siska, membayangkan dirinya meremasnya, menghisap putingnya. Ia mengocok kontolnya semakin cepat, napasnya semakin berat.
Tiba-tiba, pintu itu terbuka lebar. “RIKO! APA YANG KAU LAKUKAN?!”
Tante Siska berdiri di pintu, matanya melotot dengan marah. Ia melihat Riko yang sedang mengocok kontolnya sambil mengintipnya.
Riko kaget bukan main. Ia langsung menyembunyikan kontolnya, tapi sudah terlambat. “Tante… tante… ini… ini bukan…,” katanya gagap.
“BUKAN APA-APA? KAU NGINTIP TANTE SENDIRI LAGI NGOCOK?! KAU GILA, HAH?! ANAK AJAR!” teriak Tante Siska dengan suara yang sangat keras. Wajahnya merah karena marah. “MASA SIH KAU NAFSU SAMA TANTE SENDIRI?! KAU TIDAK MALU?! KAU HINA, RIKO! KAU ANAK HINA!”
Riko tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menatap Tante Siska dengan mata penuh ketakutan. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak pernah melihat Tante Siska semarah ini.
“TANTE SUDAH ANGIN-ANGIN SAMA KAU! KAU ANAK YATIM PIATU, TANTE TERIMA KAU DI RUMAH INI, INI YANG KAU LAKUIN?! KAU BALAS DENGAN CARA INI?! KAU HEWAN!” teriak Tante Siska lagi, tangannya menunjuk ke arah Riko. “KELUAR! KELUAR DARI SINI! JANGAN PERNAH MUNCUL LAGI DI DEPAN TANTE!”
Riko menangis sekarang, ia menangis dengan keras. Ia berlari keluar dari kamar Tante Siska, masuk ke kamarnya, lalu mengunci pintu. Ia menangis sepanjang malam, mendengar makian Tante Siska dari luar. Ia merasa dirinya adalah makhluk paling hina di dunia.
Beberapa hari berikutnya, suasana di rumah itu sangat dingin. Riko tidak berani keluar kamarnya. Ia tidak mau makan, tidak mau mandi, tidak mau ngapa-ngapain. Ia hanya diam di kamarnya, menangis dalam-diam. Ia merasa bersalah, malu, dan takut. Ia tidak berani menghadapi Tante Siska.
Tante Siska sendiri merasa bersalah. Ia merasa terlalu keras pada Riko. Ia tahu Riko masih muda, dan hormonnya sedang tidak stabil. Ia juga tahu Riko adalah anak yang baik, hanya saja ia terobsesi dengannya. Tapi ia tidak bisa menahan amarahnya saat itu. Ia merasa dilecehkan oleh keponakannya sendiri.
Tiga hari kemudian, Tante Siska tidak tahan lagi. Ia masuk ke kamar Riko dengan membawa semangkuk bubur ayam. Riko sedang duduk di tepi tempat tidur, wajahnya pucat dan mata sembab.
“Riko,” panggil Tante Siska dengan suara yang lembut.
Riko menoleh, lalu menundukkan kepalanya lagi. Ia tidak berani melihat Tante Siska.
“Makanlah. Kau sudah tidak makan tiga hari,” kata Tante Siska sambil meletakkan mangkok itu di dekat Riko.
Riko diam saja.
Tante Siska duduk di sebelah Riko. “Tante… tante minta maaf. Tante… terlalu keras padamu.”
Riko menatap Tante Siska dengan mata terbelalak. Ia tidak menyangka Tante Siska akan meminta maaf padanya.
“Tante tahu kau… kau sedang… bingung. Tante tahu hormonmu sedang… tidak stabil. Tante tidak seharusnya memarahimu seperti itu,” kata Tante Siska sambil mengelus rambut Riko.
Riko masih diam, tapi air mata sudah mulai mengalir lagi di pipinya.
“Kau… kau tidak jahat, Riko. Kau hanya… butuh bimbingan,” kata Tante Siska lagi.
Riko akhirnya bisa berbicara. “Tante… aku… aku hina,” katanya dengan suara serak.
“Tidak, kau tidak hina,” kata Tante Siska. Ia memeluk Riko. “Kau hanya… laki-laki.”
Riko membalas pelukan Tante Siska, menangis di bahunya. “Tante… aku… aku takut.”
“Ssst… jangan takut. Tante di sini,” kata Tante Siska sambil mengelus punggung Riko.
Mereka diam beberapa saat, saling berpelukan. Riko bisa mencium bau harum dari rambut Tante Siska. Ia bisa merasakan payudara Tante Siska yang menekan dadanya. Nafsunya mulai muncul lagi, tapi kali ini ia mencoba menahannya.
Tante Siska melepaskan pelukannya, lalu menatap Riko. “Riko… tante… tante mau bertanya sesuatu.”
Riko menatap Tante Siska.
“Apakah… apakah kau masih… nafsu dengan tante?” tanya Tante Siska dengan suara yang sangat pelan.
Riko menelan ludah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia mengangguk perlahan.
Tante Siska menarik napas panjang. “Riko… tante… tante mau membantumu.”
Riko menatap Tante Siska dengan mata tidak percaya.
“Tante… tante mau… memuaskanmu,” kata Tante Siska sambil menatap mata Riko dengan dalam.
Riko masih diam, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Tante Siska mengambil tangan Riko, lalu meletakkannya di payudaranya. “Rasakan,” bisiknya.
Riko merasakan payudara Tante Siska yang besar dan lembut di balik kaus oblongnya. Tangannya gemetar. Ia meremasnya dengan pelan.

“Aahh…,” desah Tante Siska. “Terus… remas lebih keras.”
Riko mulai berani. Ia meremas payudara Tante Siska dengan lebih keras, membuat Tante Siska mendesah lebih keras. Ia bisa merasakan putingnya yang mengeras di bawah jemarinya.
Tante Siska membuka kaus oblongnya, memperlihatkan payudaranya yang besar dan kencang dengan puting coklat muda yang sudah keras. “Jilat,” katanya.
Riko tidak menunggu lebih lama. Ia menjilati payudara Tante Siska dengan ganas, menghisap putingnya seperti bayi yang lapar. “Ohh… yes… jangan berhenti…,” desah Tante Siska, tangannya meremas rambut Riko.
Riko memindahkan tangannya ke bawah, mengusap paha Tante Siska yang mulus. Ia bisa merasakan panas dari selangkangannya. Ia mengusap memek Tante Siska yang sudah basah melalui dasternya.
“Ahh… Riko…,” desah Tante Siska. Ia membuka dasternya, memperlihatkan memeknya yang dicukur bersih dan sudah basah. “Mainkan… mainkan memek tante.”
Riko mulai mengusap klitoris Tante Siska dengan jari telunjuknya. “Aahh… enak…,” desah Tante Siska. Ia menahan kepala Riko, mendorong wajahnya lebih dalam ke payudaranya.
Riko memasukkan jarinya ke dalam memek Tante Siska. “Ohh… penuh…,” desahnya. Ia mulai memompa jarinya keluar masuk, sementara mulutnya terus menghisap payudara Tante Siska.
“Ahh… ahh… ahh…,” erang Tante Siska. Ia merasakan kenikmatan luar biasa menjalar di seluruh tubuhnya. Ia tidak pernah merasakan seperti ini sejak suaminya meninggal.
Riko memompa jarinya semakin cepat. Ia merasakan dinding memek Tante Siska yang berdenyut di sekitar jarinya. “Tante… tante…,” desahnya.
“Aku… aku mau keluar, Riko…,” desah Tante Siska.
“Keluarkan, tante… keluarkan di jariku…,” desah Riko.
Beberapa detik kemudian, tubuh Tante Siska mengejang kuat. “AHHH… TANTE KELUARR…,” teriaknya saat orgasmenya meledak.
Riko merasakan cairan hangat yang mengalir dari memek Tante Siska, membasahi jarinya. Ia mencium Tante Siska dengan liar, menelan lendirnya yang keluar dari mulutnya.
Tante Siska mendorong Riko ke tempat tidur, lalu berada di atasnya. “Sekarang giliran tante,” katanya dengan senyum menggoda.
Ia membuka celana Riko, mengeluarkan kontolnya yang sudah keras dan berdenyut. “Ohh… besar…,” bisiknya. Ia mulai mengocok kontol Riko dengan pelan, membuat Riko mendesah.
“Ahh… tante… aahh…,” desah Riko.
Tante Siska menjulurkan lidahnya, lalu menjilati kepala kontol Riko. Ia menjilati seluruh batang kontolnya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. “Ohh… sial… tante…,” erang Riko. Ia merasakan kehangatan dan kelembaban mulut Tante Siska yang menyedot kontolnya.
Tante Siska menghisap kontol Riko dengan liar, kepalanya naik turun dengan cepat. Riko meremas rambut Tante Siska, mendorong kepalanya lebih dalam. “Ahh… tante… aku… aku mau keluar…,” desahnya.
Tapi Tante Siska berhenti tepat saat Riko berada di ambang orgasme. “Belum,” katanya. Ia naik, mengarahkan kontol Riko ke lubang memeknya. “Siap?”
Riko mengangguk, matanya penuh gairah.
Tante Siska menurunkan tubuhnya, membiarkan kontol Riko masuk ke dalam memeknya dengan perlahan. “AHHH!” mereka berdua mendesak saat kontol Riko menembus dinding kenikmatan mereka.
Tante Siska mulai menaik turunkan tubuhnya, membuat kontol Riko keluar masuk ke dalam memeknya. “Ohh… enak… kontolmu enak, Riko…,” desahnya.
“Ahh… tante… memekmu sempit… basah…,” desah Riko. Ia meremas payudara Tante Siska yang bergoyang di atasnya.
Tante Siska menaik turunkan tubuhnya semakin cepat, semakin keras. “Ahh… ahh… ahh…,” erang mereka berdua. Suara tumbukan mereka terdengar sangat jelas di kamar yang sunyi itu.
“Aku… aku mau keluar lagi, Riko…,” desah Tante Siska.
“Aku juga, tante…,” desah Riko.
“Dalam… keluarkan di dalam memek tante…,” pinta Tante Siska.
Dengan beberapa dorongan terakhir yang kuat, mereka berdua mencapai puncaknya bersamaan. “AHHH… AHHH… AHHH…,” teriak mereka berdua saat orgasme mereka meledak bersamaan.

Mereka tergeletak lemas di tempat tidur, tubuh mereka basah oleh keringat dan cairan kenikmatan. Tante Siska memeluk Riko, mencium keningnya.
“Bagaimana?” bisiknya.
Riko tersenyum lemah. “Lebih baik dari yang kubayangkan, tante.”
Tante Siska tertawa. “Nakal.”
Riko memeluk Tante Siska lebih erat. “Tante… terima kasih.”
Tante Siska mengelus rambut Riko. “Tante juga yang berterima kasih, Riko. Kau… kau sudah membuat tante merasa hidup lagi.”
Mereka diam beberapa saat, menikmati kehangatan tubuh satu sama lain. Riko tidak lagi merasa bersalah atau malu. Ia merasa dicintai dan diinginkan. Tante Siska tidak lagi merasa kesepian atau marah. Ia merasa puas dan bahagia.
“Tante?” kata Riko.
“Hmm?”
“Besok… kita bisa… lagi?” tanya Riko dengan suara malu-malu.
Tante Siska tersenyum. Ia mencium Riko dengan lembut. “Tentu saja, nakal. Tante akan mengajarmu semua yang kau butuhkan.”
Riko tersenyum lebar. Ia tahu ini bukan lagi tentang obsesi atau nafsu yang salah. Ini adalah tentang cinta, kepedulian, dan kepuasan bersama. Dan ia tidak sabar untuk menjelajahinya lebih dalam lagi dengan Tante Siska, wanita yang dulu ia kagumi dari jauh, dan sekarang ia miliki sepenuhnya.

